Artikel

Sulap Limbah Sawit Jadi Pupuk dengan Bio-slurry

19 Januari 2016

Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan perkebunan sawit 196.433 ha yang dikelola rakyat, swasta maupun BUMN. Total produksinya mencapai 395.713 ton (BPS PROVINSI LAMPUNG,2013). Dalam jumlah produksi tersebut, potensi melimpahnya limbah menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaanya.

Lelaki kelahiran 1976 bernama lengkap Irpan kami temui pada jumat (11/12/2015) di rumahnya, di desa Sangun Ratu, kecamatan Pubian, Lampung Tengah dengan ditemani rekan-rekannya yang tergabung dalam perkumpulan tukang ahli biogas. Mereka berinisiatif memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggunakan limbah serat dan abu sawit menjadi kompos yang dipadukan dengan bio-slurry. Tukang ahli program Biogas Rumah (BIRU) yang tergabung dalam Regol Mason Group ini juga berlatarbelakang sebagai petani padi.

“Tukang-tukang ahli BIRU yang tergabung dalam kelompok kami hampir seluruhnya bertani padi yang dilakukan sebagai mata pencaharian sampingan, jadi kami butuh suplai pupuk untuk sawah kami sendiri”, ujar Irpan.

Kebutuhan kompos sebagai pupuk dasar yang relatif banyak menuntut mereka berkreasi mencari bahan-bahan lokal sebagai bahan subtitusi dari bio-slurry dan kotoran sapi.

“Sekarang bio-slurry agak sulit didapat dalam jumlah banyak karena masing-masing pengguna biogas saat ini memanfaatkannya untuk bercocok tanam sendiri. Jadi kami dituntut berinovasi mencari bahan lain sebagai bahan pengganti campuran kompos.”, ungkap Irpan kembali.

“Dengan kebutuhan kompos dikisaran 3-5 ton per Ha sangat sulit mendapatkan bio-slurry sebanyak itu untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota kami, jadi kami berupaya untuk tetap berinovasi”, tambahnya.

Mereka mencoba untuk memanfaatkan limbah serat sawit yang jumlahnya melimpah sebagai bahan campuran pupuk kompos bio-slurry untuk sawahnya. “Kami membuat kompos bio-slurry dengan campuran limbah padat sawit dengan komposisi bio-slurry, kotoran sapi, limbah serat sawit, limbah abu sawit, kapur dan dolomit yang kemudian kami campurkan dengan aktivator MOL atau Mikro Organisme Lokal yang kami buat dari bio-slurry yang diperkaya dengan campuran mikrobia lokal dari bahan-bahan yang ada disekitaran tempat tinggal kami. Kompos yang sudah matang kami gunakan untuk pupuk dasar sawah kami”, imbuhnya.

Berhasil Mengurangi Pupuk kimia 75 %

Memasuki musim tanam padi tahun ini, anggota kelompok Regol Mason Group mempersiapkan kebutuhan pupuk dasar untuk kebutuhan anggotanya

“Persiapan musim tanam padi bulan ini kami memproduksi 30 ton kompos untuk memenuhi kebutuhan pengolahan sawah milik anggota kelompok kami, jumlah produksi kompos tahun lalu (2014, red) kami anggap masih belum bisa memenuhi kebutuhan semua anggota, untuk itu kami menambah jumlah produksinya di tahun ini. Total luas sawah anggota kami saat ini 3,75 Ha, jika ada sisa kompos nanti bisa kami jual pada petani sekitar yang mau mencoba, namun sementara ini konsentrasi kami untuk memenuhi kebutuhan anggota terlebih dahulu”, terang Irpan ketika kami tanya jumlah produksi komposnya. Dengan bermodalkan sebidang lahan seluas 2.500 m2, Irpan saat ini telah berhasil mendapatkan 1,8 ton GKP (Gabah Kering Panen).

“Sekarang saya hanya menggunakan 25% pupuk kimia, memang saya kurangi secara bertahap penggunaan kimianya selama 8 musim tanam terakhir ini. Saya menggunakan 800kg pupuk kompos bio-slurry per musim tanam untuk 2.500 m2 sawah yang saya miliki sebagai pupuk dasarnya” ungkapnya.

“Dari hasil panen musim tanam terakhir kami merasa puas dengan meningkatknya produktivitas padi kami, jumlah pupuk kimia berkurang. Padi kami lebih tahan terhadap hama dan penyakit, jelas semua itu mengurangi biaya produksi yang harus kami keluarkan setiap musim tanam”. (Sholahuddin)