Jalan Baru Koperasi: Dari Menggerakkan Ekonomi hingga Menggerakkan Energi

Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto sedang mendorong perubahan besar menuju ketahanan dan transisi energi bersih yang dicanangkan 100 GW PLTS akan disebarkan ke 80.000 desa diseluruh Indonesia melalui Koperasi. Namun di balik ambisi tersebut, muncul sebuah pertanyaan: bisakah koperasi mengambil peran nyata dalam perjalanan transisi energi Indonesia? Project TERBIT (Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia melalui Model Energi Terbarukan Berbasis Masyarakat) mencoba mencari jawabannya, dengan melihat lebih dekat kesiapan koperasi dan peluang pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat.

Aktivitas masyarakat pesisir

Perjalanan dimulai dari tiga tempat dengan wajah Indonesia yang berbeda: pegunungan, pesisir, dan kepulauan. Dari Pasuruan, Blanakan, hingga Pulau Giligenting, TERBIT mempelajari kebutuhan energi, kesiapan koperasi, potensi bisnis, dan model bisnis yang sesuai dengan konteks masing-masing. Dari sana terlihat bahwa tidak ada satu resep default untuk semua. Namun, di beberapa lokasi, TERBIT menemukan bahwa koperasi yang telah memiliki kapasitas kelembagaan dan kegiatan usaha yang kuat memiliki peluang nyata untuk mengelola dan mengembangkan PLTS yang terintegrasi dengan aktivitas ekonomi produktif mereka.

Kegiatan ekonomi masyarakat berbasis energi terbarukan

Temuan dari lapangan itu kemudian dibawa ke meja kebijakan melalui FGD, Multi-Stakeholder Forum, dan Green Cooperative Solar Initiative Dialogue. Berbagai kementerian, lembaga, PLN, dan pemangku kepentingan dipertemukan untuk menyamakan pemahaman, memetakan peran, serta membahas kebutuhan kebijakan dan regulasi. Model yang telah dirancang pun tidak berhenti sebagai gagasan. Melalui RISE (Readiness of Indonesia Solar Energy) Series Workshop, model tersebut kembali diuji dari sisi financial pathway, technology & technical readiness, serta viability, bersama para ahli dan stakeholder terkait.

Handbook Panduan Implementasi PLTS Berbasis Koperasi

Seluruh perjalanan tersebut kemudian dirangkum dalam Handbook Panduan Implementasi PLTS Berbasis Koperasi di Pedesaan yang telah di release oleh Rumah Energi. Di dalamnya, koperasi dapat menilai kesiapan melalui self-assessment, mengikuti roadmap implementasi, serta mengakses berbagai perangkat dan jejaring pendukung untuk memulai perjalanan menuju PLTS berbasis koperasi.

Perangkat penyimpan energi surya bergerak

Pada akhirnya, perjalanan TERBIT Phase 1 memberikan sebuah jawaban: koperasi layak dan mampu menjadi bagian nyata dari transisi energi Indonesia. Namun, kemampuan itu tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan koperasi yang siap, model bisnis yang tepat, teknologi yang sesuai dengan kebutuhan, akses pembiayaan, serta ekosistem kebijakan dan dukungan yang memungkinkan. Dari lapangan hingga meja kebijakan, TERBIT menunjukkan bahwa ketika semua elemen tersebut dipertemukan, energi terbarukan tidak hanya menjadi sumber listrik, tetapi dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat, dan koperasi dapat mengambil peran di dalamnya.


Ditulis oleh: Theo M. Putra
Disunting oleh: Fauzan Ramadhan

5 Agustus 2026
Yayasan Rumah Energi 2026