Memastikan Perempuan Tidak Tertinggal dalam Transisi Energi Berkeadilan di Purwakarta

Purwakarta, 5 Agustus 2026

Transisi energi tidak hanya tentang membangun pembangkit energi bersih, tetapi juga memastikan masyarakat di sekitar proyek memperoleh akses, kesempatan berpartisipasi, dan manfaat pembangunan secara adil. Hal ini menjadi pesan utama dalam Kick-off Program ProWomen for Just Energy Transition dan Lokakarya Pengarusutamaan GEDSI dalam Transisi Energi yang diselenggarakan Rumah Energi di Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta.

Kegiatan yang mempertemukan pemerintah, sektor energi, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat dari empat desa ini membahas pentingnya menempatkan perempuan dan kelompok rentan sebagai bagian aktif dalam proses transisi energi.

Dokumentasi Kegiatan ProWomen Purwakarta

Hasil Gender Assessment yang dilakukan SAPA Institute di empat desa sekitar kawasan PLTS Cirata menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi berbagai kerentanan dalam pendidikan, ekonomi, kesehatan, perlindungan, serta akses terhadap infrastruktur.

Dalam aspek ekonomi, misalnya, perempuan menghadapi beban ganda antara pekerjaan domestik dan mencari penghasilan. Berkurangnya akses terhadap sektor pertanian juga dapat memperlemah ketahanan pangan keluarga, sementara perempuan memiliki pilihan pekerjaan yang lebih terbatas dibandingkan laki-laki. Kondisi ekonomi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi keputusan keluarga terhadap pendidikan anak perempuan.

Temuan ini menunjukkan bahwa berbagai kerentanan tersebut tidak semata-mata muncul akibat proyek energi. Sebagian telah ada sebelumnya. Namun, pembangunan energi perlu memastikan bahwa perubahan ruang, ekonomi, dan sosial tidak semakin memperbesar kesenjangan yang sudah ada.

Karena itu, GEDSI tidak cukup dimaknai sebagai jumlah perempuan yang hadir dalam kegiatan. Yang lebih penting adalah memastikan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara adil.

Transisi energi di Purwakarta juga menghadirkan peluang untuk memperkuat ekonomi masyarakat. Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat menekankan pentingnya mengembangkan energi terbarukan untuk peningkatan akses energi, diversifikasi energi, dan kegiatan ekonomi produktif di perdesaan.

Praktik tersebut telah mulai dikembangkan di sekitar Cirata. PLN Nusantara Power UP Cirata, misalnya, memanfaatkan eceng gondok untuk kerajinan dan pakan ternak, mengembangkan budidaya maggot untuk mengolah sampah organik, serta memanfaatkan residunya untuk budidaya jamur tiram. Program tersebut sekaligus membuka peluang pendapatan bagi perempuan, penyandang disabilitas, lansia, dan kelompok rentan lainnya. Dengan demikian, transisi energi dapat menjadi pintu masuk untuk membangun ekonomi lokal yang lebih inklusif, selama masyarakat dilibatkan sejak proses perencanaan.

Suasana Lokakarya GEDSI

Salah satu tantangan yang dibahas adalah masih terbatasnya keterlibatan perempuan dalam forum dan pengambilan keputusan terkait pembangunan energi. Untuk mengatasinya, diperlukan kebijakan dan mekanisme yang memastikan suara perempuan benar-benar masuk dalam proses pembangunan.

SAPA Institute mendorong pengembangan kerangka perlindungan gender, rencana aksi gender, serta mekanisme pengaduan yang terintegrasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Ruang partisipasi juga perlu diperluas melalui forum yang dekat dengan kehidupan perempuan, seperti PKK, Posyandu, kelompok pengajian, dan forum desa. Pada saat yang sama, keterlibatan laki-laki dan keluarga juga penting untuk membangun lingkungan yang mendukung partisipasi perempuan.

Pendampingan Masyarakat di Maniis

Melalui Program ProWomen 4 Just Energy Transition, Rumah Energi akan mendampingi masyarakat di Kecamatan Maniis hingga Maret 2027 melalui penguatan kepemimpinan, literasi energi bersih, literasi keuangan, dan berbagai peningkatan kapasitas lainnya. Program ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga mendorong perempuan menjadi pemimpin di komunitas dan meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada masyarakat lainnya.

Transisi energi yang berkeadilan pada akhirnya bukan hanya tentang energi yang lebih bersih, tetapi juga pembangunan yang lebih adil. Ketika perempuan dan kelompok rentan memiliki ruang untuk bersuara, berpartisipasi, memimpin, dan memperoleh manfaat, transisi energi dapat menjadi bagian dari perubahan yang benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

12 Agustus 2026