Mendorong Transisi Energi yang Inklusif melalui Pengarusutamaan GEDSI di Purwakarta
Transisi energi tidak hanya berbicara tentang perubahan teknologi dan sumber energi, tetapi juga tentang memastikan bahwa manfaat dan peluang dari perubahan tersebut dapat dirasakan secara adil oleh seluruh kelompok masyarakat. Berangkat dari semangat tersebut, Rumah Energi melalui Program ProWomen for Just Energy Transition (PW4JET) menyelenggarakan kegiatan pengarusutamaan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) di Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta pada 26–27 Agustus 2026.
Kegiatan ini mempertemukan masyarakat dari Desa Pasir Jambu, Sinargalih, Tegal Datar, dan Citamiang, bersama pemerintah desa dan berbagai pemangku kepentingan. Lokakarya menjadi ruang untuk membangun pemahaman bersama mengenai keadilan gender, kondisi kelompok rentan, serta tantangan yang dihadapi masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim dan transisi energi.

Pada hari pertama, kegiatan dibuka dengan pengantar mengenai pendekatan Gender Action Learning System (GALS). Project Manager PW4JET, Gustina, menegaskan bahwa pendekatan ini bukan bertujuan untuk mengubah peran perempuan dan laki-laki dalam rumah tangga, melainkan membuka ruang refleksi agar pembagian peran dapat berlangsung lebih adil, setara, dan berdasarkan kesepakatan bersama.
Melalui sesi Vision Journey: Dari Dermaga ke Pulau Harapan, peserta diajak memetakan perjalanan kehidupan keluarga menggunakan metafora kapal. Peserta menggambarkan siapa yang menjadi “nahkoda”, siapa yang menjadi “penumpang”, tujuan yang ingin dicapai dalam dua hingga tiga tahun ke depan, serta berbagai hambatan yang mungkin dihadapi.
Mayoritas kelompok masih menggambarkan laki-laki sebagai pencari nafkah utama atau “nahkoda” keluarga, sementara perempuan berperan sebagai pendukung. Namun, diskusi juga menunjukkan adanya perubahan pola peran. Sejumlah peserta menggambarkan perempuan yang turut bekerja dan mencari penghasilan, sementara laki-laki mulai terlibat dalam pengasuhan anak dan pekerjaan domestik.

Cita-cita keluarga yang muncul dalam diskusi banyak berkaitan dengan pendidikan anak dan pengembangan usaha. Sementara itu, berbagai hambatan digambarkan dalam bentuk batu, ombak, dan eceng gondok yang merepresentasikan persoalan ekonomi, keterbatasan akses, hingga tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman mengenai ketidakadilan gender kemudian diperdalam melalui pembahasan berbagai bentuk marginalisasi, subordinasi, stereotipe, beban ganda, diskriminasi, dan kekerasan. Peserta juga diajak memahami dampaknya terhadap kesehatan fisik dan psikologis, kondisi ekonomi, kehidupan sosial, hingga akses terhadap hak dan layanan.
Salah satu temuan menarik muncul dalam sesi Jam 24 Jam dan Pohon Rezeki. Melalui pemetaan aktivitas harian, delapan kelompok membandingkan aktivitas perempuan dan laki-laki dalam satu hari. Hasil diskusi menunjukkan pola yang cukup konsisten. Aktivitas perempuan umumnya dimulai lebih awal, antara pukul 03.00–06.00 pagi, dan berakhir lebih larut, bahkan hingga pukul 21.00–01.00. Selain pekerjaan domestik, banyak perempuan juga terlibat dalam aktivitas produktif dan pencarian penghasilan.

Temuan ini menjadi refleksi penting mengenai beban kerja ganda perempuan, terutama ketika pekerjaan domestik belum sepenuhnya dianggap sebagai tanggung jawab bersama dalam keluarga.
Melalui simulasi rapat warga dan pengelolaan keuangan rumah tangga, peserta juga mendiskusikan pentingnya menciptakan ruang yang lebih setara bagi perempuan untuk menyampaikan pendapat serta membangun komunikasi dan kepercayaan dalam pengambilan keputusan keluarga. Diskusi kemudian berkembang pada isu perubahan iklim dan transisi energi. Peserta mengidentifikasi berbagai perubahan yang mereka rasakan, mulai dari peningkatan suhu, kekeringan, kebakaran, hingga krisis air. Namun, dampak tersebut tidak dirasakan secara sama oleh setiap kelompok.
Perempuan cenderung menghadapi peningkatan beban domestik, terutama ketika akses terhadap air dan energi menjadi lebih sulit, serta meningkatnya pengeluaran rumah tangga. Di sisi lain, laki-laki banyak merasakan dampak berupa penurunan pendapatan, khususnya dari sektor pertanian dan mata pencaharian berbasis sumber daya alam.
Peserta kemudian mendiskusikan berbagai bentuk intervensi yang dapat dilakukan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan, seperti bantuan modal, pelatihan teknis, dan penyediaan teknologi energi terbarukan. Mayoritas kelompok menilai pelatihan teknis sebagai pilihan yang dapat memberikan manfaat lebih merata bagi perempuan, laki-laki, dan generasi muda.
Diskusi ini menegaskan bahwa transisi energi perlu dirancang bukan hanya berdasarkan teknologi yang tersedia, tetapi juga dengan mempertimbangkan siapa yang memiliki akses, siapa yang mendapatkan manfaat, dan siapa yang berpotensi tertinggal.

Pada hari kedua, peserta melanjutkan proses refleksi melalui sesi Pohon Aksi. Masing-masing desa memetakan akar persoalan, solusi yang dapat dilakukan masyarakat, serta pihak-pihak yang perlu dilibatkan dalam proses penyelesaiannya.
Di Desa Tegal Datar, persoalan utama yang diidentifikasi adalah kekeringan dan keterbatasan akses air bersih. Masyarakat mengusulkan penguatan sarana air bersih serta membuka peluang diskusi dengan pihak terkait pengembangan PLTS.
Sementara itu, Desa Sinargalih menyoroti kenaikan biaya listrik dan keterbatasan modal usaha, terutama bagi perempuan kepala keluarga dan kelompok PEKA. Solusi yang muncul antara lain pemanfaatan biogas dan energi surya serta dukungan permodalan. Pemerintah desa menyatakan kesiapan untuk mendukung penyediaan lahan dan melibatkan kader dalam proses musyawarah desa.
Di Desa Citamiang, peserta mengidentifikasi persoalan yang saling berkaitan antara pemanasan global, kesehatan, ekonomi, sampah, dan eceng gondok. Usulan yang muncul meliputi penyediaan akses air, layanan kesehatan, serta pengelolaan sampah dan eceng gondok melalui kolaborasi dengan pemerintah desa, dinas terkait, dan YRE.
Adapun Desa Pasir Jambu menyoroti persoalan ekonomi rumah tangga, anak putus sekolah, tingginya biaya listrik, keterbatasan penerangan jalan, hingga pernikahan dini. Peserta mengusulkan pelatihan ekonomi, penguatan akses pendidikan, dan penyediaan penerangan. Dalam diskusi juga muncul persoalan judi online sebagai salah satu faktor yang turut memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga dan menghambat pemanfaatan bantuan ekonomi secara produktif.
Lokakarya ditutup dengan penyusunan rencana aksi individu yang disesuaikan dengan kelompok peserta, baik pemerintah desa, perempuan, maupun laki-laki. Peserta juga mengisi formulir tindak lanjut dan evaluasi sebagai bagian dari proses perencanaan kegiatan berikutnya.
Selama dua hari, lokakarya tidak hanya menjadi ruang untuk memahami konsep GEDSI, tetapi juga membuka percakapan mengenai realitas kehidupan masyarakat di Kecamatan Maniis. Diskusi menunjukkan bahwa persoalan energi, perubahan iklim, ekonomi, air, pendidikan, dan ketimpangan gender saling berkaitan.
Melalui PROWOMEN for JET, proses ini menjadi langkah awal untuk memastikan bahwa transisi energi tidak hanya menghasilkan sumber energi yang lebih bersih, tetapi juga membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi perempuan dan kelompok rentan.
Sebab, transisi energi yang berkeadilan hanya dapat terwujud ketika masyarakat tidak sekadar menjadi penerima manfaat, tetapi turut memiliki suara, peran, dan kesempatan yang setara dalam menentukan masa depan energi di wilayahnya.
Ditulis oleh: Kharisanty Soufi
Disunting oleh: Fauzan Ramadhan
