Memulai Langkah PELITA untuk NTB

Setiap hari, ribuan ton sampah dihasilkan di Nusa Tenggara Barat. Sebagian berakhir di tempat pemrosesan akhir, sebagian lainnya belum terkelola secara optimal. Di balik tumpukan sampah tersebut, terdapat persoalan yang lebih besar: tekanan terhadap lingkungan, risiko terhadap kesehatan masyarakat, hilangnya potensi sumber daya, hingga emisi gas rumah kaca yang terus meningkat.
Namun, bagaimana jika sampah tidak lagi hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus dibuang? Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu titik berangkat Project Pengelolaan Limbah Terpadu Hulu-Hilir (PELITA) NTB, sebuah inisiatif yang didorong Rumah Energi untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi, mulai dari rumah tangga hingga tempat pemrosesan akhir.

Komitmen tersebut diperkuat melalui kegiatan Kick Off dan Diseminasi Hasil Kajian Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) Project PELITA NTB yang berlangsung di Mataram, Lombok pada 31 Agustus 2026. Pertemuan ini bukan sekadar menjadi ruang untuk mempresentasikan rancangan proyek. Berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, komunitas, hingga kelompok perempuan dan penyandang disabilitas, hadir untuk bersama-sama memberikan masukan terhadap desain yang akan menjadi dasar implementasi proyek.
Dari Hulu ke Hilir, Mengubah Cara Mengelola Sampah
Persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun lebih banyak fasilitas pengolahan. Perubahan perlu dimulai dari sumbernya. Sebagian besar sampah yang dihasilkan masyarakat merupakan sampah organik. Jika dipilah dan dikelola dengan tepat, sampah tersebut sebenarnya memiliki potensi untuk kembali menjadi sumber daya. Sampah organik dapat diolah menjadi energi bersih, pupuk, maupun produk lain yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Melalui PELITA NTB, sampah organik didorong untuk dikelola sejak tingkat rumah tangga dan desa. Pendekatan ini kemudian dihubungkan dengan pengembangan teknologi pengolahan limbah di sisi hilir, termasuk pengelolaan air lindi dan pemanfaatan limbah untuk menghasilkan manfaat energi dan ekonomi.

Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak lagi berhenti pada pola kumpul, angkut, dan buang, tetapi bergerak menuju sistem yang lebih sirkular.
“PELITA NTB dirancang untuk melihat limbah secara menyeluruh, dari sumber hingga pengolahan akhirnya. Kami ingin mendorong agar sampah yang selama ini menjadi beban dapat dikelola menjadi sumber daya yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,”
— Sumanda Tondang, Direktur Eksekutif Rumah Energi
Memulai Perubahan dari Desa
Project PELITA NTB dirancang untuk menjangkau 28 Desa Berdaya di NTB, termasuk kawasan Gili Trawangan, Gili Air, dan Pulau Moyo. Desa menjadi bagian penting dalam pendekatan ini karena perubahan sistem pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi. Perubahan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat yang menghasilkan dan berhadapan langsung dengan persoalan sampah setiap hari.

Karena itu, PELITA NTB dirancang dengan pendekatan yang inklusif. Perempuan, pemuda, penyandang disabilitas, dan kelompok masyarakat lainnya diharapkan dapat terlibat dalam proses pengelolaan sekaligus memperoleh manfaat dari peluang ekonomi hijau yang dikembangkan.
Pendekatan tersebut juga membuka peluang untuk menghubungkan pengelolaan sampah dengan isu pembangunan yang lebih luas. Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi pupuk untuk mendukung pertanian. Pengolahan limbah juga dapat menghasilkan energi alternatif. Pada saat yang sama, sistem pengelolaan yang lebih baik dapat membantu mengurangi tekanan terhadap lingkungan dan mendukung sektor pariwisata yang menjadi salah satu kekuatan NTB.
Kolaborasi untuk Membangun Sistem yang Bertahan
Membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Karena itu, sejak tahap perencanaan, Rumah Energi mendorong keterlibatan berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah daerah, pemerintah kabupaten dan kota, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, komunitas, serta masyarakat desa dilibatkan dalam proses penyempurnaan desain proyek.
Masukan yang dihimpun tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis. Kajian FS dan DED PELITA NTB juga melihat aspek lingkungan, sosial, kelembagaan, risiko, potensi pengurangan emisi, manfaat energi, hingga kelayakan finansial.
Pendekatan ini penting untuk memastikan proyek tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Sebuah teknologi dapat dibangun dalam waktu tertentu. Namun, sistem hanya dapat bertahan jika ada kelembagaan yang kuat, sumber daya manusia yang siap, model bisnis yang berjalan, serta rasa memiliki dari masyarakat dan pemerintah daerah.
Untuk mendukung pengelolaan yang lebih terukur, PELITA NTB juga akan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) dan sistem Monitoring, Reporting, and Verification (MRV). Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat membantu memantau kinerja fasilitas sekaligus mengukur manfaat lingkungan, termasuk potensi pengurangan emisi.
Menuju NTB yang Lebih Bersih dan Berdaya
Project PELITA NTB merupakan bagian dari kerja sama Indonesia dan Inggris melalui Low Carbon Development Indonesia–Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF). Proyek ini diharapkan dapat mendukung agenda pembangunan rendah karbon dan ekonomi hijau di NTB. Namun, bagi Rumah Energi, keberhasilan sebuah proyek tidak hanya diukur dari jumlah fasilitas yang dibangun. Keberhasilan juga dapat dilihat dari berkurangnya sampah yang berakhir di TPA, meningkatnya kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya, terbukanya peluang ekonomi baru, hingga semakin luasnya akses kelompok perempuan dan kelompok rentan terhadap manfaat pembangunan.

Tahap konstruksi PELITA NTB direncanakan dimulai pada September 2026 hingga April 2027. Perjalanan menuju implementasi memang baru dimulai. Namun, proses yang berlangsung sejak tahap perencanaan telah menunjukkan satu hal penting: persoalan sampah membutuhkan solusi yang dibangun bersama.
Melalui PELITA NTB, kami ingin mendorong perubahan cara pandang terhadap sampah. Bukan lagi sekadar sesuatu yang harus disingkirkan. Tetapi sumber daya yang ketika dikelola dengan tepat, dapat menjadi energi, mendukung ketahanan pangan, membuka peluang ekonomi, mengurangi emisi, dan memperkuat masyarakat.
Dari desa hingga tempat pemrosesan akhir, perubahan itu diharapkan dapat tumbuh menjadi sebuah sistem yang tidak hanya membuat NTB lebih bersih, tetapi juga lebih mandiri, inklusif, dan berkelanjutan.

