Merancang Biodigester yang Inklusif untuk Desa Berdaya di NTB

Rumah Energi terus mematangkan langkah untuk mendukung upaya Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam membangun desa yang berdaya melalui pemanfaatan energi terbarukan. Salah satu upaya yang tengah dipersiapkan adalah pembangunan 34 titik biodigester percontohan di berbagai wilayah NTB melalui Program PELITA NTB.

Pembangunan biodigester bukan sekadar menghadirkan teknologi pengolahan limbah menjadi energi. Teknologi tersebut perlu dirancang agar dapat digunakan dan memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin masyarakat, termasuk kelompok penyandang disabilitas.

Karena itu, sebelum pembangunan dilakukan, Rumah Energi menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) penyusunan Detail Engineering Design (DED) di Lombok Barat. FGD ini menjadi ruang untuk menguji dan menyempurnakan rancangan biodigester berdasarkan kebutuhan nyata calon pengguna.

Mendengarkan Pengguna Sejak Tahap Perancangan

Project Manager PELITA NTB, Krisna, menjelaskan bahwa 34 titik biodigester yang akan dibangun diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat NTB dalam mengembangkan inisiatif energi terbarukan yang memanfaatkan sumber daya lokal. Namun, sebuah teknologi hanya akan benar-benar memberikan manfaat apabila masyarakat dapat menggunakannya dengan mudah dan aman.

“Bagaimanapun biodigester yang hendak dibangun harus ramah kepada semua segmen, baik masyarakat pada umumnya, lebih-lebih bagi penyandang disabilitas,” ujar Krisna.

Atas dasar tersebut, FGD tidak hanya menghadirkan unsur teknis. Perwakilan penyandang disabilitas juga dilibatkan secara langsung untuk menyampaikan pengalaman, kebutuhan, dan masukan terkait aksesibilitas fasilitas biodigester. Pendekatan ini menempatkan penyandang disabilitas bukan sekadar sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai subjek yang turut menentukan seperti apa teknologi tersebut dirancang.

Misalnya, apabila pengguna menggunakan kursi roda, maka akses menuju area biodigester perlu mempertimbangkan ruang gerak dan kemudahan mobilitas. Begitu pula dengan kebutuhan penyandang disabilitas fisik lainnya, yang perlu dipertimbangkan sejak tahap perancangan agar fasilitas dapat digunakan secara lebih mandiri.

Inklusivitas hingga ke Teknologi Pendukung

Prinsip inklusivitas juga diterapkan pada perangkat pendukung biodigester, termasuk alat pencacah sampah organik bertenaga surya. Dalam FGD, peserta memberikan masukan mengenai bagaimana alat tersebut dapat memberikan informasi yang mudah dipahami oleh pengguna dengan kebutuhan yang berbeda. Salah satu aspek yang dibahas adalah penggunaan rambu atau penanda untuk menunjukkan apakah mesin dalam kondisi siap digunakan, sedang beroperasi, atau telah selesai digunakan.

Masukan juga diberikan terkait sistem penanda suara pada alat. Bagi pengguna dengan hambatan pendengaran, misalnya, sistem informasi perlu mempertimbangkan bentuk penanda visual yang jelas. Sementara itu, sistem suara dapat menjadi informasi tambahan bagi pengguna lainnya untuk mengetahui status pengoperasian alat. Dengan demikian, aspek aksesibilitas tidak ditempatkan sebagai tambahan setelah teknologi selesai dibuat, melainkan menjadi bagian dari proses desain sejak awal.

Mengubah Limbah Menjadi Energi

Selain membahas aspek aksesibilitas, FGD juga menjadi ruang untuk memperdalam rancangan teknis biodigester. Hirwan, seorang guru SMK sekaligus pengembang alat pencacah sampah organik, memaparkan dan mempraktikkan penggunaan alat pencacah standar bertenaga surya.

Sementara itu, narasumber teknis memberikan penjelasan mengenai rancangan biodigester, mulai dari tata letak dan tata ruang, ukuran serta kedalaman tabung, komponen pendukung, hingga sistem penyaluran biogas yang dapat digunakan untuk memasak di dapur.

Teknologi ini memiliki potensi untuk mengubah berbagai jenis limbah yang selama ini dipandang sebagai masalah menjadi sumber energi. Kotoran ternak, limbah organik rumah tangga, serta bahan organik lainnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas melalui proses pengolahan yang tepat.

Pendekatan tersebut tidak hanya menawarkan sumber energi alternatif, tetapi juga membuka peluang pengelolaan limbah yang lebih baik di tingkat masyarakat.

Menuju 34 Titik Percontohan Biodigester

Sebanyak sekitar 30 peserta dari berbagai unsur masyarakat mengikuti FGD dengan antusias. Diskusi menunjukkan bahwa masyarakat melihat peluang besar dalam pemanfaatan energi terbarukan yang bersumber dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar mereka.

Proses ini merupakan bagian penting untuk memastikan bahwa 34 titik biodigester yang akan dibangun bukan hanya memenuhi standar teknis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dapat digunakan oleh berbagai kelompok.

“Semua ini kita lakukan agar ke depannya biodigester yang dibuat betul-betul siap bagi semua segmen masyarakat, termasuk dalam pengarusutamaan gender, disabilitas, dan inklusi,” kata Krisna.

Melalui pendekatan yang partisipatif dan inklusif, Rumah Energi berupaya menjadikan 34 titik biodigester di NTB sebagai lebih dari sekadar proyek percontohan teknologi. Titik-titik tersebut diharapkan menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk melihat bahwa energi terbarukan dapat dibangun dari sumber daya yang tersedia di sekitar mereka, dikelola bersama, dan dirancang agar manfaatnya dapat dirasakan oleh semua.

Langkah ini sekaligus memperkuat upaya membangun desa yang lebih berdaya—desa yang mampu mengenali potensi lokal, mengelola sumber dayanya, dan mengambil bagian dalam menciptakan sistem energi yang lebih bersih, inklusif, dan berkelanjutan.

17 September 2026