Respon Tanggap Darurat ElNino: Penanganan Kekeringan dan Distribusi Air Bersih

Kabupaten Bekasi menghadapi tantangan bencana hidrometeorologi yang berulang setiap tahun, mulai dari banjir pada musim hujan hingga kekeringan pada musim kemarau. Pada 2026, kekeringan melanda sejumlah wilayah dan meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap akses air bersih.

Di wilayah selatan, kekeringan berdampak pada Cibarusak, Bojongmangu, Serangbaru, Cikarang Selatan, dan sebagian Cikarang Pusat. Sementara itu, wilayah utara menghadapi persoalan intrusi air laut yang menyebabkan sumber air masyarakat menjadi asin dan tidak lagi dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Dalam wawancara bersama Bapak Dodi, Kepala Bidang Darurat dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, ia menjelaskan bahwa keterbatasan kapasitas operasional menjadi salah satu tantangan dalam menjangkau seluruh wilayah terdampak. Dengan delapan armada dan 30 personel, BPBD membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk menyalurkan bantuan ke 14 kecamatan dan 47 desa.

“Sejak terbentuknya Klaster Logistik pada 2023, penanganan bencana kekeringan pada 2026 kami nilai paling baik dan lebih aktif. Anggota klaster sudah semakin mengenal satu sama lain, sehingga inisiatif untuk berkoordinasi dan memberikan bantuan muncul secara mandiri saat terjadi bencana.” Ujar Dodi dalam wawancara tersebut.

Kolaborasi untuk Memperluas Jangkauan Bantuan

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, BPBD Kabupaten Bekasi mengoptimalkan koordinasi melalui Klaster Logistik, yang melibatkan berbagai dinas dan instansi pemerintah, dunia usaha, serta yayasan kemanusiaan, termasuk Rumah Energi.

Sejak dibentuk pada 2023, klaster ini semakin memperkuat koordinasi dan respons bersama dalam penanggulangan bencana. Pada 2026, kolaborasi tersebut dinilai semakin efektif karena para anggotanya lebih proaktif dalam mengidentifikasi kebutuhan dan menyalurkan bantuan tanpa harus selalu menunggu permintaan.

Masyarakat yang membutuhkan air bersih dapat melapor langsung kepada BPBD atau melalui pemerintah desa dan kecamatan. Setiap laporan kemudian diverifikasi untuk mengetahui kondisi di lapangan, kebutuhan masyarakat, serta tindak lanjut yang diperlukan.

Tandon Air Mempercepat Distribusi Air Bersih

Salah satu dukungan dalam penanganan kekeringan dilakukan oleh Microsoft bersama Rumah Energi melalui pembangunan 12 tandon air berkapasitas 5.000 liter di 12 titik pada Desa Pasirranji, Cicau, Sukabungah, Serang, dan Sukadami. Keberadaan tandon dan bak penampungan membantu mempercepat distribusi air bersih kepada masyarakat. Sebelumnya, satu mobil tangki berkapasitas 5.000 liter membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam untuk menyalurkan seluruh air karena warga harus mengambilnya menggunakan galon atau ember secara bergantian.

Dengan adanya tandon dan penampungan, masyarakat dapat mengambil air dengan lebih mudah. BPBD juga membantu sejumlah desa membangun kolam penampungan berbahan terpal. Efisiensi ini memungkinkan satu armada melakukan dua hingga tiga kali pengiriman dalam sehari, dengan total distribusi mencapai 10.000–15.000 liter air per hari.

“Dengan adanya toren air dan bak penampungan, warga tinggal mengambil air di tempat yang sudah disediakan. Sehingga dalam satu hari, satu armada pendistribusian air dapat melakukan dua hingga tiga kali pengiriman.” ungkap Dodi.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa penanganan kekeringan tidak hanya bergantung pada ketersediaan pasokan air, tetapi juga pada infrastruktur penampungan dan mekanisme distribusi yang efisien. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan organisasi kemanusiaan turut membantu memperluas jangkauan bantuan bagi masyarakat terdampak.

Mendorong Solusi Jangka Panjang

BPBD Kabupaten Bekasi terus berkoordinasi dengan berbagai instansi di tingkat provinsi dan pusat untuk merumuskan solusi penanganan banjir dan kekeringan secara terintegrasi, dari hulu hingga hilir. Salah satu kebutuhan yang disoroti adalah pembangunan embung atau waduk di wilayah hulu untuk menampung air saat musim hujan dan menyediakan cadangan air ketika musim kemarau.

Selain infrastruktur, penguatan sistem pelaporan bencana juga menjadi kebutuhan. BPBD berharap adanya aplikasi terintegrasi yang memungkinkan masyarakat melaporkan kondisi darurat dengan cepat sekaligus membantu petugas memverifikasi laporan dan merespons kebutuhan secara lebih efektif.

Di tingkat komunitas, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air melalui penggunaan air secara bijak, pencegahan kebocoran, penampungan air hujan, dan penanaman pohon.

Penanganan kekeringan di Kabupaten Bekasi pada 2026 memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat respons bencana. Dukungan infrastruktur penampungan air menjadi langkah nyata untuk meningkatkan efektivitas bantuan, sementara pengelolaan air terpadu dan kesiapsiagaan komunitas diperlukan untuk membangun ketahanan air dalam jangka panjang.

12 Oktober 2026