Berkah Berlimpah dari Bio-Slurry

Program GADING dari Yayasan Rumah Energi yang dimulai sejak bulan November 2015 telah banyak memberi manfaat bagi masyarakat luas khususnya mereka yang sebelumnya tergabung dalam program Biogas Rumah (BIRU). Salah satu kegiatan Program GADING yang saat ini sedang berjalan di wilayah DIY adalah pemanfaatan bio-slurry untuk pupuk orgnik dan budidaya tanaman duckweed/lemna atau mata ikan. Salah satu anggota masyarakat yang telah merasakan manfaat dari program GADING adalah Titus Suranto (53). Beliau adalah salah satu dari 13 pengguna biogas yang ada di Desa Sumberadi yang juga menjadi GADING workforce member programme DIY. Beliau sudah menggunakan biogas kurang lebih selama satu tahun dengan kapasitas reaktor 8 meter kubik.

Selain tergabung dengan kelompok ikan Mina Kepis, Titus Suranto juga tergabung dalam kelompok ternak Bulu Andini yang beranggotak 24 orang dengan jumlah sapi sebanyak 32 ekor Pada awal penggunaan reactor biogas, gas yang dihasilkan belum terlalu banyak sehingga untuk mencukupi kebutuhan memasak sehari-hari, beliau masih menggunakan tambahan gas LPG. Tetapi setelah satu bulan berjalan gas yang dihasilkan sudah mulai banyak, dan cukup untuk memasak sehari-hari, saat ini Titus Suranto sudah dapat menghemat 4 tabung gas per bulannya (kebutuhan gas sebelum menggunakan biogas 4 tabung per bulannya).

Selain mendapatkan gas manfaat lain yang diperoleh dari reaktor biogas adalah bio-slurry sebagai ampas atau hasil sampingan dari reaktor biogas. Melalui program GADING, Titus mencoba memanfaatkan bio-slurry untuk meningkatkan produktivitas pembibitan ikannya. Bio-slurry yang dihasilkan dari reaktor biogas dimanfaatkan untuk pupuk dasar kolam ikan dan pupuk dasar kolam duckweed/mata ikan. Dari uji coba yang dilakukan oleh Titus pemberian bio-slurry sebagai pupuk dasar kolam ikan dapat mengurangi angka kematian bibit ikan dan mengurangi sekaligus menyembuhkan penyakit jamur pada sisik ikan. Proses yang dilakukan sangat sederhana yaitu sebelum kolam ikan ditebar bibit ikan terlebih dahulu diberi bio-slurry segar sebanyak 20% dari volume air dalam kolam ikan, selanjutnya kolam dibiarkan selama 3 hari setelah itu baru bibit ikan dimasukkan.

Uji coba lain yang dilakukan oleh Titus adalah memanfaatkan bio-slurry sebagai pupuk dasar kolam Lemna/mata ikan. Selama ini pakan yang digunakan untuk pembibitan ikan adalah pellet dan tanaman hijau seperti daun lompong. Untuk kebutuhan pellet selama 3 bulan, Titus menghabiskan 3 zak pellet (30kg/zak) dengan harga per zak Rp 270.000,- Untuk mengurangi penggunaan pellet ikan, Titus juga memberikan mata ikan/lemna sebagai makanan tambahan bibit ikan. Dampak pemberian lemna untuk pembibitan ikan menurut pengalamannya membuat pertumbuhan ikan menjadi lebih cepat sehingga umur panen ikan juga menjadi lebih cepat ½ bulan dan penggunaan pellet ikan juga semakin hemat.

Tidak hanya untuk pakan ikan, Titus terus melakukan uji coba memanfaatkan lemna untuk pakan bebek dan ayam. Dari pengamatannya, pemberian lemna sebagai pakan tambahan untuk bebek petelur memberi dampak bebek-bebek muda lebih cepat bertelur sedangkan untuk bebek pedaging pertumbuhannya menjadi lebih cepat. Kedepannya, Titus bertekad akan terus memanfaatkan bio-slurry dan lemna sebagai sumber bahan makanan ikan dan ternak-ternak peliharaannya.

Ternyata banyak manfaat yang bias diperoleh dari bio-slurry dan Titus Suranto telah merasakan “Berkah Berlimpah dari Bio Slurry”

22 Maret 2018