Sosok Ibu Narmi Sang Penjual Nasi Kuning (Perempuan dalam Peningkatan Ekonomi Keluarga)

25 Februari 2020

Peran perempuan dalam rumah tangga diidentikkan dengan urusan domestik seperti memasak dan merawat anak. Akan tetapi saat ini perempuan sudah mulai berani mengaktualisasi diri dan melakukan improvisasi. Bahkan di perkotaan istilah wanita karir sudah bukan hal asing lagi.

Fenomena perempuan bekerja bagi sebagian masyarakat desa adalah hal yang masih jarang, tapi bukan berarti perempuan tidak bisa berkontribusi untuk perekonomian keluarga. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan berwirausaha. Potret perempuan yang tidak hanya mengurusi urusan rumah tangganya, tapi juga turut berkontribusi aktif dalam kegiatan peningkatan ekonomi keluarga dapat kita lihat dalam sosok Ibu Narmi.

Ibu Narmi adalah istri dari Bapak Andri, salah satu user biogas di Desa Sumberharjo, Kecamatan Miolong, Kabupaten Luwuk-Banggai, Sulawasi Tengah. Sebagai bagian penting dari program Pengembangan Kawasan Ekonomi Produktif melalui Konservasi Energi yang digadang Yayasan Rumah Energi dan JOB Tomori, peran penerima manfaat menjadi indikator utama yang dapat menentukan kesuksesan program ini. Sejak menggunakan biogas yang terinstalasi pertengahan tahun 2019 ini, Ibu Narmi merasa sangat terbantu dalam kegiatan wirausahanya yaitu sebagai penjual nasi kuning.

“Sejak ada biogas saya jadi bisa menghemat beli gas untuk memasak nasi kuning. Biasanya sebulan bisa habis sampai 15 tabung gas dan pakai banyak kayu bakar.”

Pagi-pagi sekali Ibu Narmi sudah terbangun untuk memasak nasi kuning serta lauk pauk sebagai pelengkapnya. Kegiatan memasak biasanya ia lakukan pukul 03.30 pagi waktu setempat. Sekitar pukul 05.30 ia bergegas merapihkan dagangannya dan diantar oleh anaknya ke Sekolah Dasar Inpres 2 di Desa Slametharjo untuk berjualan. Sesampainya disana, tidak perlu waktu banyak untuk menunggu para pembelinya. Satu persatu mereka datang dan langsung dilayani dengan ramah oleh Ibu Narmi. Pelanggan nasi kuningnya mulai dari murid-murid hingga guru-guru di sekolah tersebut. Uniknya, ia tidak mematok harga untuk satu porsi nasi kuningnya. Pesanan disesuaikan dengan kemampuan para pembelinya.

“Satu porsi biasanya ada yang dua ribu, tiga ribu, ada juga lima ribu… Tergantung maunya anak-anak yang beli. Alhamdulillah setiap hari selalu habis. Bersihnya tiap hari bisa sampai tujuh puluh lima ribu saya dapat. Alhamdulillah.”

Sementara itu, Pak Andri melakukan aktifitas sebagai petani dan peternak sapi. Biogas bukan hanya bermanfaat banyak dalam kegiatan domestik dan wirausaha, ampasnya biogas (bioslurry) juga dimanfaatkan Pak Andri untuk bercocok tanam kangkung di pekarangan rumahnya. Biogas adalah keniscayaan bagi keluarga Pak Andri dan Bu Narmi. Bukan hanya membuat kandang ternak sapinya menjadi lebih bersih, namun juga punya manfaat dan nilai lebih terutama dalam memangkas biaya produksi usaha nasi kuning Bu Narmi yang kini sudah bisa mengurangi ketergantungan terhadap gas bersubsidi.