Ibu Titin Giat Melestarikan Budaya Indonesia melalui Jajanan Tradisional Berkonsep Zero Waste

21 April 2020

Makanan tradisional, bukan sekedar makanan yang populer karena cita rasanya yang khas, tapi juga sejarahnya yang dikenal sebagai warisan budaya untuk bisa dilestarikan. Indonesia dengan ragam budaya yang berbeda-beda, seringkali memiliki makanan khasnya masing-masing yang umumnya identik dengan perayaan upacara adat. Namun seiring perkembangan zaman, banyak makanan tradisional yang pupus dikalahkan dengan makanan modern yang serba instan. Dan inilah, yang membuat Ibu Titin Indra Mayasari, seorang wanita yang berprofesi sebagai guru dan juga penjual serabi Laklak di Lombok Barat, yang diberi nama Lumbung Serabi Ghaziya dengan harapan jajanan tradisional Lombok bisa tetap dinikmati oleh semua generasi.

Ibu Titin sendiri membangun bisnis Lumbung Serabi Ghaziya sejak 10 tahun lalu, karena terinspirasi dari pedagang serabi yang ia temui ketika berlibur ke Yogyakarta semasa kuliah. Melihat kondisi pedagang yang sudah sepuh, seketika ia berpikir mengapa bukan anak muda saja yang berjualan? Padahal makanan tradisional merupakan warisan budaya yang sudah sepatutnya dilestarikan.  

“Pada semasa saya kuliah, kebetulan saya juga kekurangan uang jajan. Akhirnya dari situ muncul niatan kenapa saya nggak jualan serabi Laklak saja di Lombok. Apa lagi di zaman sekarang serabi Laklak sudah mulai langka. Sayang kalau sampai benar-benar hilang, itu kan termasuk warisan budaya kita juga”, ujarnya. 

Serabi Laklak merupakan salah satu jajanan tradisional yang terbuat dari tepung beras, garam dan air, kemudian disajikan dengan santan kental. Serabi Laklak memang sangat persis dengan serabi khas Jawa, hanya saja ukuran dan warnanya yang berbeda, dimana Serabi Laklak memiliki ukuran lebih kecil dengan adonan berwarna hijau. 

Selama masa penjualan, Ibu Titin sempat berhenti berdagang di tahun 2014 setelah menikah. Namun, ia kembali melanjutkan bisnis serabinya di tahun 2015 secara online melalui platform Instagram. Walau fasilitasnya yang terkesan mudah dengan sistem online, namun tak ada bisnis satu pun yang terbebas dari kendala. Begitu pula pada Lumbung Serabi Ghaziya, Ibu Titin mengalami banyak rintangan soal komplain pelanggan terkait rasa serabi yang tidak begitu nikmat ketika sudah dingin. “Waktu itu sempat banyak komplain dari pelanggan. Katanya saya jualan Serabi Laklak nggak pernah dalam kondisi hangat. Tapi ya mau gimana, masalahnya saya waktu itu berdagang sendirian belum punya pegawai. Dan proses pembuatan serabi Laklak memang tidak sebentar, butuh waktu lama untuk matang. Jadi, setiap ada order online saya nggak bisa menyajikan dalam kondisi panas”, katanya.

Pada saat itu, para pelanggan yang memesan secara online perlu untuk mengambil pesanannya sendiri di lokasi dagang Ibu Titin. Namun, sejak kehadiran ojek online di tahun 2017, Ibu Titin akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa kurir ojek online dalam pengiriman makanan. Berharap bisa menjadi iconic jajanan tradisional khas Lombok, Ibu Titin mendaftarkan diri dalam program Pro-Women dan melewati masa program inkubasi bisnis yang menjadikannya lebih percaya diri. 

Sejak saat itu pula, Ibu Titin mengajak para mahasiswa di Lombok yang ingin mendapatkan uang saku tambahan dengan bergabung menjadi tim Lumbung Serabi Ghaziya. “Biasanya kan jajanan tradisional terkenal dengan pedagang yang sudah sepuh ya, makanya kenapa saya mencari anak-anak muda untuk bergabung di sini. Karena saya ingin membangun semangat generasi muda untuk melanjutkan warisan budaya dengan jualan jajanan tradisional,” ulasnya. 

Walau sudah memiliki 7 jumlah anggota, tetap saja tak menjadikan Ibu Titin berhenti turun tangan menjalankan proses bisnisnya. Setiap hari ia membuat adonan sendiri untuk bisa dijual pada jam 3 siang  hingga jam 6 sore. Selama bergabung bersama Pro-Women, Ibu Titin mengaku banyak mengalami perkembangan bisnis yang begitu pesat. Ia mempelajari banyak hal mengenai faktor-faktor penting untuk bisa menciptakan bisnis yang mumpuni. “Saya diajari bagaimana cara mengevaluasi pasar, seperti apa segmentasinya lalu cara membuat bisnis kanvas. Makanya sekarang saya sudah punya plan untuk kedepan mau seperti apa. Terus, saya juga belajar melakukan branding di media sosial. Karena selama ini saya selalu post foto di Instagram pribadi. Padahal, cara itu salah. Sebaiknya memang akun bisnis harus dibuat terpisah dari akun pribadi”, ungkapnya. 

Selain mempelajari strategi membangun bisnis yang ideal, selama masa program inkubasi Pro-Women, Ibu Titin juga mendapat kesempatan untuk menjalin kolaborasi dengan para peserta lain. Saat ini, ia pun telah bekerja sama dengan Ibu Maimunah, peserta Pro-Women yang memiliki bisnis keripik tortilla. Mereka sama-sama terbentuk dalam visi yang selaras, yaitu keinginan untuk bisa melestarikan bahan pangan lokal menjadi produk yang berkualitas. “Awalnya saya ingin berkolaborasi dengan pembisnis kopi. Karena biasanya masyarakat Lombok suka menyantap serabi Laklak sembari ditemani kopi. Tapi justru belum sempat teraplikasi. Malahan, saya sudah bekerja sama dengan Ibu Maimunah yang menjual keripik tortilla. Karena kita sama-sama menjual kuliner heritage yang menggunakan bahan pangan lokal Nusa Tenggara Barat yaitu padi gogo rancah dan biji jagung yang diubah menjadi produk makanan unggul. Jadi, setiap selesai menikmati Serabi Laklak, biasanya pelanggan suka ngemil keripik tortilla”, jelasnya.

Melestarikan budaya Indonesia melalui kuliner, bukanlah satu-satunya tujuan utama dari terbentuknya Lumbung Serabi Ghaziya. Ibu Titin juga berharap melalui bisnisnya yang berkonsep zero waste bisa mengangkat kesadaran masyarakat Lombok untuk tidak lagi menggunakan plastik sekali pakai. “Saya juga menerapkan konsep zero waste pada bisnis saya. Jadi, selama ini saya selalu meminta untuk setiap pelanggan membawa wadah masing-masing. Semisalnya, di antara mereka ada yang lupa bawa, biasanya saya cuma menyediakan daun pisang untuk menyajikan kue Serabinya,” ungkapnya. Walaupun, sering menemukan pelanggan yang mengeluh soal bahan pembungkus, hal tersebut tetap tidak membuat Ibu Titin berputus asa untuk selalu mengingatkan masyarakat betapa pentingnya pengurangan sampah plastik.

Melalui program Pro-Women, Ibu Titin berharap bisa menjadi ikonis terbesar di Nusa Tenggara Barat melalui kuliner tradisional yang juga menjadi wadah terbentuknya lapangan pekerjaan secara luas. Beliau juga ingin bila bisnisnya bisa memberikan banyak manfaat, utamanya kepada kaum muda yang mau bergerak bersama melestarikan warisan budaya Indonesia melalui bisnis pangan lokal.