Memenuhi Kebutuhan Pangan dari Rumah

4 Mei 2020

Sejak bulan Maret lalu pemerintah telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai kota dan daerah sehubungan dengan kegiatan pencegahan penyebaran pandemic virus Covid-19. Hal ini tentu saja berdampak kepada kegiatan bekerja atau belajar yang harus beradaptasi dengan perubahan dan terpusat di rumah. Tak hanya kegiatan, dalam aspek ekonomi dan sosial, pola konsumen juga berubah.
Oleh karena itu, ketahanan pangan merupakan satu hal yang paling penting terlebih dalam menjaga kesehatan masyarakat, melanjutkan perbincangan di Webinar Yayasan Rumah Energi berjudul “Ketahanan Pangan Indonesia di Masa Pandemi” pada tanggal 23 April 2020 yang lalu mengingatkan kita untuk ikut aktif berpartisipasi dalam menjaga ketahanan pangan. Bagaimana caranya? Berikut ulasan singkat tentang hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan dalam menjaga kestabilan pangan kita.
Tentunya ada beragam pilihan wujud ikut serta dalam menjaga kestabilan kebutuhan pangan. Tiga langkah sederhana yang akan kami utarakan di bawah ini saling berkaitan satu sama lain dan dapat dimulai satu per satu dari yang paling bisa dilakukan di rumah masing-masing:

  1. Membeli bahan pangan secukupnya dan menghabiskan makanan.
    Langkah paling awal untuk pemenuhan kebutuhan pangan adalah dengan membeli bahan makanan (sayur atau buah) seperlunya sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak ada makanan yang berlebih dan terbuang sia-sia. Dalam menyiasatinya adalah dengan membuat rencana mingguan untuk memasak makananmu di rumah.
    Cara lain yang dapat juga dijadikan sarana untuk berbagi, bila memang memiliki makanan berlebih dan kondisinya masih layak adalah dengan membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.
  2. Menanam sayur sendiri.
    Tahapan lebih jauh dalam memenuhi pangan adalah dengan bercocok tanam di rumah. Kegiatan ini memungkinkan kita menghasilkan bahan pangan sendiri bila keadaan tidak memungkinkan kita untuk membeli sayur di pasar. Berkebun dapat dimulai dengan menanam sayur yang memang disukai atau bumbu dapur masakan di rumah. Selain mendapat hasil panenan, kita juga dapat mengalihkan kepenatan dari PSBB ini.
  3. Potensi untuk berkebun tentunya perlu disesuaikan dengan lokasi dan luasan area bercocok tanam.
    Banyak metode yang dapat diterapkan dengan lahan minimal, seperti metode pertama yaitu metode vertikultur yakni menanam secara vertikal (bertingkat) menggunakan paralon atau botol di ruang yang sempit. Metode kedua adalah metode hidroponik dengan media tanam berupa air serta kandungan unsur hara yang mencukupi. Metode ketiga adalah metode akuaponik, yakni budidaya yang menggabungkan budidaya menanam dengan budidaya perairan (ikan) yang bersifat simbiotik. Metode ketiga Wall Gardening: Pada dasarnya hampir sama dengan metode vertikultur. Hanya saja, yang menjadi perbedaan adalah, metode ini menggunakan dinding sebagai media tanam.
  4. Memisahkan sampah/limbah berdasarkan sifatnya. Sampah dapat diilustrasikan sebagai barang yang tidak memiliki nilai lagi. Namun pada kenyataannya sampah masih memiliki nilai tambah bila dilakukan pemilahan. Pemilahan berdasarkan keseluruhan sampah rumah tangga, dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar.
  • Sampah Organik
    Merupakan sisa dari sayur/buah/makanan yang masih dapat mengalami penguraian secara alami oleh mikroorganisme. Sisa-sisa pangan ini dapat memiliki nilai tambahan bila diolah dengan tepat contohnya adalah dengan cara yang sederhana yaitu pengomposan atau metode lain yang memberi lebih banyak nilai tambah adalah biogas (akan dibahas secara khusus pada artikel berikutnya). Metode kompos akan menghasilkan pupuk kompos, sedangkan biogas menghasilkan gas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak atau diubah menjadi aliran listrik dan produk samping berupa bioslury padat serta cair yang dimanfaatkan sebagai pupuk alami seperti kompos.
  • Sampah Non Organik
    Sisa bahan non-organik seperti plastik atau kertas tidak dapat dihindari kehadirannya. Kedua jenis limbah ini tidak dapat terurai secara alami sehingga yang dapat dilakukan adalah mengumpulkan, mendistribusikan ke pengepul plastik atau kertas bekas serta bank sampah. Alternatif lainnya adalah dengan dibuat menjadi ecobrick atau kerajinan tangan yang unik. (FM)