Ketika Limbah Organik Program MBG Diubah Menjadi Sumber Energi Bersih
Setiap hari, dapur MBG menghasilkan limbah organik yang kerap menjadi masalah. Akan tetapi, Ibu Ema dari Desa Cidadap Kabupaten Sukabumi punya cara lain. Limbah organik dari dapur MBG tidak dibuang, tapi diolah. Ia memanfaatkan limbah organik dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cidadap 1 Simpenan sebagai bahan baku biogas di rumahnya.
Hadirnya biogas berbahan baku limbah dapur MBG membuktikan bahwa timbulan sampah organik yang biasanya membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sejatinya dapat diolah menjadi sumber energi terbarukan. Selain menghasilkan gas untuk memasak, biogas juga menghasilkan produk turunan yaitu bio-slurry (ampas biogas) yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk alami yang baik untuk tanaman.
Ibu Ema dan keluarganya merasakan manfaat nyata biogas, salah satunya adalah penghematan karena tidak perlu lagi membeli elpiji, “Alhamdulillah, sudah dua bulan ini tidak perlu beli elpiji lagi. Biasanya sebulan bisa habis tiga sampai empat tabung, sekarang tidak beli sama sekali,” ujarnya.

Biogas rumah Ibu Ema ini menjadi biogas pertama di Kabupaten Sukabumi yang memanfaatkan limbah organik dapur MBG, dan diresmikan langsung oleh Bupati Sukabumi Asep Japar pada 12 Februari 2026. Peresmian tersebut juga dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali. Selain biogas Ibu Ema di Desa Cidadap, pada kesempatan tersebut diresmikan juga Solar Dryer House di Desa Loji, Kecamatan Simpenan.
Direktur Eksekutif Rumah Energi, Sumanda Tondang, yang berkesempatan memberikan sambutan pada acara peresmian tersebut mengungkapkan bahwa teknologi tepat guna hanya akan berkelanjutan ketika masyarakat terlibat sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan, “Fasilitas ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan ruang pembelajaran energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan praktik ekonomi sirkular,” ungkapnya.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat sipil, dan sektor swasta ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya dimulai dari kota-kota besar. Ia dapat tumbuh dari desa, dikelola oleh masyarakat, dan menghadirkan dampak lingkungan serta ekonomi yang nyata.
Ditulis oleh: Fauzan Ramadhan
