Menjaga Panen, Menguatkan Ketahanan Pangan: Kisah Ibu Masikah Menghadapi Cuaca yang Tak Lagi Pasti
Bagi sebagian masyarakat desa, bertani bukan hanya soal menanam dan memanen. Ada banyak hal yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan, dan cuaca menjadi salah satu yang paling sering menghadirkan kecemasan.
Hal itu sangat dirasakan oleh Ibu Masikah, perempuan 52 tahun yang sehari-hari aktif sebagai bendahara Kelompok Tani Tegallega. Kelompok tani yang beranggotakan 32 orang tersebut mengelola berbagai komoditas seperti bawang merah, padi, dan pisang. Varietas tanaman yang sangat bergantung pada kondisi cuaca, terutama saat memasuki masa pasca panen.
Cuaca Tak Menentu, Ancaman bagi Hasil Panen
Sebagai petani, Ibu Masikah memahami betul bagaimana perubahan cuaca dapat memengaruhi hasil kerja berbulan-bulan. Hujan yang datang tiba-tiba sering kali membuat proses pengeringan hasil panen menjadi terhambat. Padahal bagi petani, pengeringan adalah tahap yang sangat penting. Ketika proses itu tidak berjalan baik, hasil panen bisa cepat rusak, membusuk, bahkan kehilangan nilai jual.

Solar dryer house yang digunakan Kelompok Tani Tegallega untuk mengeringkan hasil panen.
“Kadang petani itu sudah capek dari awal tanam sampai panen, tapi rusaknya justru setelah dipanen karena cuaca,” kira-kira begitulah kegelisahan yang sering dirasakan para petani di kelompoknya.
Solar Dryer House: Solusi di Tengah Cuaca yang Tak Menentu
Kecemasan seperti itu bukan hanya dirasakan satu dua kali. Dalam beberapa musim, cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat petani harus bekerja dengan rasa waswas yang terus berulang. Namun di tengah kondisi tersebut, perubahan mulai dirasakan ketika kelompok tani mulai memanfaatkan solar dryer house sebagai teknologi pengeringan hasil panen. Bagi para petani, keberadaan solar dryer house bukan sekadar bangunan atau alat tambahan. Kehadirannya memberi rasa aman di tengah cuaca yang tidak menentu. Kini, proses pengeringan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada panas matahari terbuka. Risiko hasil panen rusak akibat hujan mendadak pun dapat ditekan.
Peran Ibu Masikah dalam Pengambilan Keputusan Kelompok Tani
Ada ketenangan yang mulai dirasakan petani. Mereka tidak lagi terlalu cemas ketika langit mendung datang setelah panen. Mereka memiliki cara untuk menjaga hasil kerja tetap aman. Di balik perubahan itu, ada peran penting perempuan seperti Ibu Masikah yang ikut berada di dalam pengambilan keputusan kelompok tani. Sebagai bendahara kelompok tani, keberadaan Ibu Masikah juga membawa makna lain yang tidak kalah penting. Di tengah lingkungan yang masih sering menempatkan laki-laki sebagai aktor utama dalam organisasi pertanian, ia hadir sebagai perempuan yang mengisi posisi penting dalam manajemen kelompok.
Bagi dirinya, posisi tersebut bukan sekadar jabatan administratif. Ia menjadi bagian dari proses bagaimana kelompok mengambil keputusan, mengelola organisasi, dan memastikan kebutuhan petani tetap diperhatikan.

Ibu Masikah berdiskusi dengan pendamping lapangan mengenai pengelolaan kelompok tani.
Mematahkan Anggapan Lama tentang Perempuan di Sektor Pertanian
Kehadiran perempuan dalam posisi strategis seperti ini perlahan juga mematahkan anggapan bahwa perempuan hanya berada di belakang dalam sektor pertanian. Karena pada kenyataannya, perempuan juga memahami persoalan pertanian, merasakan dampaknya secara langsung, dan mampu mengambil peran penting dalam mencari solusi.
Perubahan yang dialami kelompok tani ini mungkin terlihat sederhana. Namun di balik itu, ada hal besar yang sedang tumbuh. Rasa aman bagi petani di tengah cuaca yang semakin tidak pasti, begitu juga ruang yang semakin terbuka bagi perempuan untuk ikut memimpin perubahan di komunitasnya sendiri.
