Warga Desa Cicau Siap Bangun Gerakan Kelola Sampah dari Tingkat Komunitas

Bekasi – Desa Cicau, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, telah berubah pesat dalam dua dekade terakhir. Pertumbuhan kawasan industri membawa semakin banyak penduduk, tetapi juga menghadirkan tantangan baru: sampah yang terus meningkat dengan karakter yang semakin kompleks.

Jika dahulu sampah di desa ini didominasi material organik dari aktivitas pertanian, kini sebagian besar berupa plastik kemasan, limbah industri, hingga popok sekali pakai. Di tengah keterbatasan fasilitas, sebagian warga masih mengandalkan pembakaran sebagai cara mengurangi timbunan sampah. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kualitas lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat.

Berangkat dari situasi tersebut, Rumah Energi bersama Microsoft menyelenggarakan Pelatihan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat pada 25 Juni dan 22 Juli 2026. Kegiatan ini tidak sekadar mengajarkan cara memilah sampah, tetapi mengajak masyarakat memahami bahwa perubahan dimulai dari cara pandang terhadap sampah itu sendiri.

Pelatihan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di Desa Cicau
Pelatihan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di Desa Cicau.

Melalui pendekatan Capability, Opportunity, Motivation, and Behavior (COM-B), peserta diajak merefleksikan dampak sampah terhadap kehidupan sehari-hari, mengenali potensi yang dimiliki komunitas, hingga menyusun rencana aksi yang lahir dari kebutuhan mereka sendiri. Dengan demikian, solusi yang dibangun bukan datang dari luar, melainkan tumbuh dari kesadaran dan komitmen masyarakat.

Selama proses diskusi, warga juga memetakan berbagai tantangan yang mereka hadapi, mulai dari keterbatasan lahan untuk bank sampah, rendahnya minat masyarakat memilah sampah, hingga perlunya dukungan pemerintah desa dan berbagai pihak untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah di tingkat komunitas.

Namun di balik berbagai tantangan tersebut, muncul optimisme yang sama: keinginan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

Bagi Ali (Komeng), salah satu peserta pelatihan, sampah bukan lagi akhir dari sebuah proses.

“Bagi saya sampah bukan masalah, sampah bukan akhir dari segalanya. Sampah adalah sesuatu yang bermanfaat.”

Ali Komeng memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk
Ali Komeng memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk.

Ia pun telah memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk untuk pertanian di rumahnya. Praktik sederhana tersebut menunjukkan bahwa sampah dapat memiliki nilai guna ketika dikelola dengan cara yang tepat.

Semangat serupa juga disampaikan Itoh M., kader Posyandu Desa Cicau. Menurutnya, perubahan hanya akan terjadi jika diikuti aksi nyata. Para kader siap mengambil peran melalui edukasi kepada warga dan mendukung pembentukan bank sampah di desa.

Kegiatan warga Desa Cicau dalam pelatihan pengelolaan sampah
Kegiatan warga Desa Cicau dalam pelatihan pengelolaan sampah.

Melalui pelatihan ini, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada berbagai alternatif pengolahan sampah seperti komposting, eco-enzyme, biogas, maggot BSF, dan Bank Sampah Unit, tetapi juga menyusun langkah-langkah yang paling realistis untuk diterapkan sesuai kondisi desa mereka.

Pelatihan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat ini merupakan bagian dari Indonesia Berdaya, inisiatif Rumah Energi yang bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam membangun lingkungan yang lebih sehat, tangguh, dan berkelanjutan.

Pengelolaan sampah bukan semata tentang mengurangi limbah. Lebih dari itu, pengelolaan sampah adalah proses membangun kesadaran, memperkuat gotong royong, dan menciptakan perubahan perilaku yang berangkat dari masyarakat sendiri. Karena ketika sebuah komunitas mampu mengubah cara pandangnya terhadap sampah, yang lahir bukan hanya lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga harapan akan masa depan desa yang lebih berdaya.

18 Agustus 2026