Bagi Ibu Emay Marliah, pekerjaan rumah tangga adalah bagian dari keseharian yang tidak pernah benar-benar selesai. Tinggal bersama tiga anggota keluarganya, perempuan 48 tahun dengan pendidikan terakhir SMA itu menjalani rutinitas domestik seperti mencuci pakaian, mencuci piring, hingga memenuhi kebutuhan air rumah tangga setiap hari. Namun di balik aktivitas yang terlihat sederhana itu, akses air bersi menjadi tantangan yang selama ini cukup membebani kehidupannya.
Sebelum adanya bantuan IPAH, ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp200.000 setiap bulannya untuk memastikan keluarganya tetap memiliki air untuk kebutuhan sehari-hari. Bagi rumah tangga sederhana, pengeluaran tersebut cukup terasa sebab air bukan kebutuhan yang bisa ditunda. Ia harus tetap tersedia setiap hari, apa pun kondisi ekonomi keluarga. Selain soal biaya, kualitas air yang digunakan sebelumnya juga belum sepenuhnya mendukung kebutuhan domestik dengan baik. Aktivitas mencuci sering kali terasa lebih berat karena hasil cucian tidak benar-benar bersih seperti yang diharapkan.
Perubahan mulai terasa ketika bantuan IPAH hadir di lingkungannya. Bagi sebagian orang, akses air bersih mungkin terlihat sebagai hal biasa. Namun bagi Ibu Emay, kehadiran IPAH membawa perubahan nyata dalam kesehariannya sebagai perempuan yang banyak menghabiskan waktu untuk mengurus pekerjaan domestik di rumah. Kini, aktivitas mencuci pakaian dan mencuci piring menjadi jauh lebih mudah. Air yang lebih bersih membuat pekerjaan rumah tangga terasa lebih ringan dan hasil cucian menjadi lebih baik.

“Sekarang mencuci jadi lebih bersih dan lebih enak,” kira-kira begitulah perubahan sederhana yang ia rasakan setiap hari.
Tidak hanya itu, pengeluaran rumah tangganya untuk kebutuhan air juga mulai berkurang. Jika sebelumnya harus mengeluarkan sekitar Rp200.000 setiap bulan, kini kebutuhannya turun menjadi sekitar Rp160.000.
Penghematan tersebut mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Namun bagi rumah tangga seperti milik Ibu Emay, selisih itu tetap berarti. Ada uang yang bisa dialihkan untuk kebutuhan lain.
Perubahan ini menunjukkan bahwa akses terhadap air bersih bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana kualitas hidup perempuan dapat ikut berubah.
Karena dalam banyak rumah tangga, perempuan adalah pihak yang paling dekat dengan urusan air sehari-hari. Ketika akses air sulit, perempuan yang paling merasakan bebannya.
Bagi Ibu Emay, perubahan ini mungkin tidak terdengar besar. Namun dalam kesehariannya, ada banyak hal yang kini terasa lebih ringan. Pekerjaan rumah menjadi lebih mudah. Pengeluaran rumah tangga sedikit berkurang. Dan hidup sehari-hari terasa lebih nyaman untuk dijalani.
