Harmoni Suami Istri dalam Menyemai Perubahan Lingkungan

Bagi Ibu Yulianti dan suaminya, persoalan lingkungan awalnya bukan sesuatu yang mereka pelajari dari buku atau forum besar. Mereka melihatnya langsung setiap hari, di sekitar rumah mereka sendiri. Sampah rumah tangga masih sering dibuang sembarangan, sementara limbah kotoran ternak menumpuk tanpa pengelolaan yang jelas. Perlahan, kondisi itu membuat lingkungan terlihat kotor dan kurang nyaman untuk ditinggali.

Sebagai pasangan muda, mereka sebenarnya menjalani kehidupan yang sederhana seperti kebanyakan keluarga lainnya. Mengurus rumah, bekerja, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Namun melihat kondisi lingkungan yang terus seperti itu, ada kegelisahan yang tumbuh dalam diri Bu Yuli. Ia merasa persoalan sampah tidak bisa terus dianggap biasa.

Aktivitas pengelolaan lingkungan Bu Yulianti

Ketika mengikuti program PRO-WOMEN, Bu Yuli mulai mendapatkan pengetahuan baru tentang pengelolaan lingkungan, khususnya melalui praktik pengolahan sampah organik melalui metode komposting. Dari proses belajar itu, ia mulai memahami bahwa persoalan lingkungan sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan perempuan sehari-hari.

Perempuan yang paling sering berhadapan dengan sampah rumah tangga. Perempuan yang mengelola kebutuhan rumah. Dan perempuan pula yang paling merasakan dampaknya ketika lingkungan menjadi tidak sehat. Dari situlah muncul keinginan untuk mencoba sesuatu yang sederhana di rumahnya sendiri. Bu Yuli mulai mengolah sampah rumah tangga dan kotoran ternak menjadi pupuk organik. Awalnya, itu hanya percobaan kecil yang ia lakukan secara mandiri. Sampah yang sebelumnya dibuang mulai dipisahkan, dikumpulkan, lalu diolah menjadi kompos untuk tanaman yang ia rawat di sekitar rumah seperti tomat, cabai, jambu, dan rambutan.

Proses itu tidak langsung berjalan sempurna. Ada tahapan mencoba, gagal, lalu memperbaiki lagi. Namun perlahan hasilnya mulai terlihat. Tanaman-tanamannya tumbuh lebih subur, sementara penggunaan pupuk kimia mulai berkurang dan perlahan digantikan oleh pupuk organik hasil olahannya sendiri. Dari sesuatu yang awalnya hanya dilakukan untuk menjawab persoalan di rumahnya sendiri, perlahan tumbuh dampak yang lebih luas. Tetangga mulai memperhatikan perubahan itu. Mereka melihat tanaman Bu Yuli yang tumbuh baik, lingkungan rumah yang lebih bersih, dan sampah organik yang tidak lagi menumpuk begitu saja. Rasa penasaran mulai muncul, lalu berubah menjadi ketertarikan.

Kini, beberapa warga mulai mengikuti langkah yang dilakukan Bu Yuli. Sampah rumah tangga yang sebelumnya langsung dibuang mulai dikumpulkan untuk dijadikan bahan kompos.

Perubahan ini juga menghadirkan ruang sosial baru di antara para perempuan di lingkungannya. Bu Yuli tidak hanya berbagi hasil, tetapi juga berbagi pengetahuan. Ia sering mengadakan kegiatan kumpul bersama warga sebagai ruang belajar sederhana tentang pengelolaan sampah dan pembuatan pupuk organik.

Dari situ, hubungan antar warga menjadi lebih dekat. Ada ruang untuk berbicara. Ada ruang untuk saling belajar. Dan ada rasa bahwa mereka sedang melakukan sesuatu bersama-sama untuk lingkungan mereka sendiri.

Kegiatan kumpul warga dan sosialisasi kompos

“Saya merasa bangga pada diri saya sendiri karena akhirnya bisa bermanfaat pada tetangga saya meskipun dalam hal yang sederhana,” ungkap Bu Yuli.

Kalimat itu menggambarkan perubahan penting yang ia rasakan dalam dirinya. Bahwa perempuan tidak harus melakukan hal besar untuk bisa memberi dampak. Kadang perubahan justru tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Program PRO-WOMEN juga membuka ruang baru dalam kehidupan sosial Bu Yuli. Ia mulai memiliki relasi yang lebih luas dan bergabung dalam paguyuban industri kecil menengah. Dari sana, ia merasa memiliki lingkungan yang suportif, tempat perempuan bisa saling menguatkan dan tidak merasa berjalan sendiri.

Namun perubahan yang paling terasa sebenarnya juga terjadi di dalam rumah tangganya sendiri. Apa yang awalnya hanya menjadi gagasan sederhana dari Bu Yuli perlahan mendapat dukungan dari suaminya. Mereka mulai menjalani proses belajar bersama, berdiskusi, dan mencari solusi bersama untuk lingkungan di sekitar mereka.

Bagi sang suami, pengalaman ini mengubah cara pandangnya tentang peran perempuan dalam rumah tangga.

“Ternyata tidak sepenuhnya jelek untuk mendengarkan saran dari istri, karena kadang ketika kita mentok justru solusi itu datang dari orang terdekat kita, yaitu istri,” ujarnya.

Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang besar. Ada pengakuan bahwa perempuan bukan hanya pendamping dalam rumah tangga, tetapi juga bisa menjadi sumber gagasan, pengetahuan, dan perubahan.

Di titik ini, perubahan yang terjadi bukan hanya tentang sampah yang mulai terkelola atau lingkungan yang menjadi lebih bersih. Ada hubungan yang tumbuh lebih setara. Ada ruang dialog yang semakin terbuka. Dan ada pasangan yang belajar berjalan bersama dalam menghadapi persoalan di sekitar mereka.

Kini, perubahan itu terus bergerak pelan-pelan. Dari rumah kecil mereka, kebiasaan baru mulai tumbuh di lingkungan sekitar. Sampah rumah tangga yang dulu dibuang sembarangan kini mulai dikumpulkan untuk dijadikan kompos. Warga mulai melihat bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna ternyata bisa memberi manfaat.


Ditulis oleh: Ijai Pratama
Disunting oleh: Fauzan Ramadhan

10 September 2026