Membangun Ketahanan dari Desa di Tengah Ancaman Krisis Energi Dunia

Konflik geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran pada 2026 kembali menunjukkan rapuhnya sistem energi global. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz, telah mengganggu jalur distribusi minyak dunia yang menjadi tumpuan banyak negara, termasuk Indonesia. Krisis ini bukan sekadar isu global melainkan ancaman nyata yang dampaknya terasa hingga ke tingkat tapak.

Ketergantungan Indonesia pada impor energi membuat gejolak harga minyak dunia langsung berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Ketika harga minyak naik, biaya energi ikut meningkat—dan pada akhirnya, masyarakatlah yang paling merasakan dampaknya.

Krisis energi tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan ketahanan ekonomi masyarakat. Ketika biaya energi naik, daya beli turun, usaha kecil tertekan, dan ketahanan keluarga ikut melemah. Dalam situasi ini, masyarakat akar rumput selalu menjadi kelompok yang paling rentan.

Situasi ini menegaskan satu hal: sistem energi yang bergantung pada impor dan bahan bakar fosil sangat rentan terhadap dinamika global. Selama ketergantungan ini terus berlangsung, setiap krisis di luar negeri akan terus berdampak hingga ke dapur rumah tangga di Indonesia. Namun di sisi lain, ada harapan bahwa solusi tidak harus datang dari sistem besar, tetapi bisa tumbuh dari akar rumput.

Selama lebih dari satu dekade, Rumah Energi bekerja bersama masyarakat untuk membangun sistem energi yang mandiri dan berkelanjutan. Di komunitas peternak, kotoran ternak yang sebelumnya menjadi limbah kini diolah menjadi biogas untuk kebutuhan memasak. Ini bukan hanya mengurangi ketergantungan pada LPG, tetapi juga menekan pengeluaran rumah tangga dan menghasilkan pupuk alami untuk pertanian.

Di wilayah yang sulit dijangkau listrik, energi surya membuka akses baru bagi masyarakat. Dengan sistem yang dapat dikelola secara lokal, energi tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan eksternal. Berbagai sumber energi lain seperti mikrohidro dan biomassa juga menunjukkan potensi besar ketika dikembangkan sesuai dengan konteks lokal.

Ketahanan energi bukan hanya tentang ketersediaan pasokan, tetapi tentang kemandirian masyarakat dalam mengelola sumber daya yang mereka miliki. Krisis global seperti yang terjadi hari ini seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih adil dan terdesentralisasi. Dengan demikian, jalan menuju Indonesia yang berdaya lenting dalam energi dan pangan dapat diwujudkan, sekaligus menjawab tantangan global hari ini.

Ditulis oleh: Fauzan Ramadhan

30 Maret 2026