Kisah Bu Siti dan Langkah Kecil yang Berdampak Besar
Bagi Siti Sucilawati, persoalan sampah bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia pernah merasakan sendiri bagaimana buruknya dampak lingkungan yang tidak terkelola. Rumahnya pernah terendam banjir setinggi pinggang orang dewasa. Air bercampur lumpur dan sampah masuk ke rumah warga, sementara popok sekali pakai menjadi salah satu jenis sampah yang paling banyak terlihat menyumbat saluran air.
Pengalaman itu membekas kuat dalam ingatannya. Sebagai ibu RT sekaligus ketua Posyandu Umi Kulsum, Bu Siti melihat bahwa persoalan sampah di lingkungannya bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga soal kebiasaan yang sudah berlangsung lama. Banyak warga masih terbiasa membuang sampah sembarangan karena merasa itu hal biasa dan tidak menimbulkan dampak langsung.
Namun bagi Bu Siti, kondisi itu tidak bisa terus dibiarkan. Ia mulai mengajak warga di sekitarnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Bukan dengan cara yang besar atau rumit, tetapi dimulai dari hal-hal kecil: tidak membuang sampah sembarangan, mulai memilah sampah rumah tangga, dan mengumpulkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.

Awalnya, ajakan itu tidak langsung mendapat respons seperti yang ia harapkan.
“Awalnya warga cuma mengiyakan saja, tapi belum benar-benar melakukan,” ceritanya.
Bagi sebagian warga, memilah dan mengumpulkan sampah terasa merepotkan. Tidak sedikit yang menganggap upaya itu tidak akan membawa perubahan berarti. Namun Bu Siti tidak berhenti.
Ia terus mengajak, mengingatkan, dan memberi contoh secara langsung. Bahkan, ia rela menggunakan uang pribadinya untuk membeli karung-karung yang kemudian dibagikan kepada warga sebagai wadah pengumpulan sampah anorganik di rumah mereka. Baginya, langkah kecil tetap perlu dimulai, meski harus dilakukan pelan-pelan.
Perubahan mulai terlihat ketika warga menyadari bahwa sampah yang selama ini dibuang ternyata bisa memberi manfaat ekonomi. Bersama beberapa ibu lainnya, Bu Siti mulai rutin mengumpulkan dan memilah sampah anorganik untuk kemudian dijual. Dari kegiatan sederhana itu, ibu-ibu yang rutin terlibat kini mulai memiliki tambahan pendapatan sekitar Rp30.000 setiap bulannya. Jumlah itu mungkin tidak besar. Namun bagi sebagian ibu rumah tangga, tambahan tersebut cukup berarti. Setidaknya ada uang tambahan untuk kebutuhan kecil sehari-hari dan setidaknya juga ada sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna, kini bisa memberi manfaat.

Namun bagi Bu Siti, perubahan yang paling penting bukan hanya soal uang. Ada kebiasaan baru yang mulai tumbuh di lingkungannya. Warga yang dulu membuang sampah sembarangan mulai belajar mengumpulkan dan memilah. Ibu-ibu yang sebelumnya tidak terlalu peduli kini mulai terlibat. Bahkan kegiatan mengelola sampah perlahan menjadi ruang sosial baru bagi perempuan-perempuan di lingkungannya untuk saling bertemu dan menguatkan.
“Sekarang ibu-ibu malah senang kumpul sambil pilah sampah bersama,” ujarnya.
Pengalaman mengikuti pelatihan pengelolaan sampah dalam program PRO-WOMEN juga semakin menguatkan langkah Bu Siti. Materi yang ia dapatkan terasa sangat dekat dengan persoalan yang selama ini ia hadapi di lingkungannya. Karena itu, ia tidak ingin pengetahuan tersebut berhenti hanya untuk dirinya sendiri. Setiap ada kegiatan posyandu, Bu Siti mulai menyisipkan obrolan tentang lingkungan, tentang pentingnya memilah sampah, dan tentang bagaimana perempuan sebenarnya memiliki peran besar dalam menjaga lingkungan sekitar. Perubahan ini memang belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan sampah di desanya. Namun setidaknya, sesuatu sudah mulai bergerak. Dari kebiasaan kecil yang perlahan mulai berubah.
