Mendorong Pertanian dan Peternakan Cerdas Iklim di Maniis

Perubahan iklim semakin memengaruhi kehidupan masyarakat yang bergantung pada pertanian dan peternakan. Di Kecamatan Maniis, Purwakarta, tantangan tersebut terlihat dari kekeringan lahan, keterbatasan air irigasi, serta meningkatnya biaya pakan ternak. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat sebenarnya memiliki berbagai sumber daya lokal yang dapat dimanfaatkan, seperti eceng gondok, kotoran ternak, dan limbah tanaman jagung.

Untuk merespons kondisi tersebut, Pro Women for Just Energy Transition menyelenggarakan Pelatihan Pertanian dan Peternakan Cerdas Iklim pada 28–29 September 2026 di Maniis. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat, khususnya kelompok perempuan, dalam memahami dampak perubahan iklim serta menerapkan praktik pertanian dan peternakan yang lebih adaptif dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di sekitar mereka.

Belajar dari sumber daya di sekitar

Pelatihan diikuti sekitar 43 peserta dari empat desa sasaran, yang didominasi anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) dan kader perempuan/PEKA. Kegiatan berlangsung aktif dan menarik perhatian warga lain, terutama petani dan pekebun. Bahkan, warga turut membantu menyiapkan bahan praktik yang digunakan selama pelatihan.

Peserta mendapatkan materi mengenai kesehatan tanah, pengolahan bahan organik, pemanfaatan mikroorganisme dan aktivator, pengelolaan limbah, serta pembuatan silase dari limbah tanaman jagung. Materi kemudian dipraktikkan dengan memanfaatkan eceng gondok dari kawasan Waduk Cirata, kotoran ternak, dan tebon jagung sebagai bahan kompos maupun silase.

Pendekatan praktik membantu peserta melihat hubungan antara perubahan iklim dan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Salah satu pembelajaran penting adalah pemahaman mengenai kesehatan tanah dan peran bahan organik dalam membantu tanah mempertahankan air, terutama ketika menghadapi musim kemarau. Peserta juga mulai melihat bahwa bahan yang tersedia di sekitar rumah dan lahan dapat diolah menjadi input yang lebih bermanfaat.

Membuka ruang kolaborasi

Kegiatan ini juga mempertemukan masyarakat dengan dukungan pemerintah daerah. Kepala Dinas Pangan dan Pertanian serta Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan hadir dalam kegiatan, disertai keterlibatan Penyuluh Pertanian Lapangan. Peserta juga memperoleh akses komunikasi dengan perangkat daerah dan informasi mengenai kemungkinan dukungan layanan kesehatan hewan bagi masyarakat.

Dukungan tersebut menjadi salah satu modal penting untuk memastikan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dapat ditindaklanjuti melalui layanan dan pendampingan yang tersedia di tingkat lokal.

Dalam konteks pemberdayaan perempuan, KWT dan kader perempuan/PEKA juga memiliki posisi strategis untuk menerapkan dan membagikan pengetahuan tersebut di tingkat rumah tangga maupun kelompok. Penguatan peran ini penting karena perempuan memiliki keterlibatan erat dalam pengelolaan pangan, tanaman, ternak, limbah rumah tangga, dan ekonomi keluarga.

Dari pelatihan menuju praktik berkelanjutan

Pelatihan dua hari menjadi langkah awal. Sebagian besar peserta masih berada pada tahap awal dalam praktik pengolahan pupuk organik—hanya sekitar empat peserta yang sebelumnya pernah membuat pupuk organik. Karena itu, perubahan praktik membutuhkan lebih dari sekadar transfer pengetahuan; diperlukan pengulangan, pendampingan, dan pembuktian hasil.

Sebagai tindak lanjut, proses pematangan kompos akan dipantau selama sekitar enam minggu dan hasil silase juga akan dimonitor. Pendampingan akan melibatkan tim lapangan dan PPL setempat agar peserta dapat mencoba praktik secara mandiri sekaligus memperoleh umpan balik ketika menghadapi kendala.

Ke depan, KWT dan kader perempuan/PEKA diharapkan dapat menjadi titik belajar bagi kelompok dan warga lainnya. Dengan dukungan pemerintah dan aktor teknis lokal, praktik pemanfaatan sumber daya lokal juga berpeluang berkembang menjadi kegiatan ekonomi, seperti produksi pupuk organik atau silase, setelah kapasitas kelompok dan kualitas produk cukup siap.

Pelatihan ini diharapkan menjadi awal dari perubahan praktik di tingkat masyarakat—dari sekadar mengenali tantangan perubahan iklim menjadi mampu mengembangkan solusi yang sesuai dengan kondisi lokal. Dengan pengetahuan, pendampingan, dan kolaborasi yang berkelanjutan, masyarakat Maniis dapat semakin siap membangun penghidupan yang adaptif dan tangguh terhadap perubahan iklim.

Ditulis oleh: Rangga Akbar Anggandara

Disunting oleh: Fauzan Ramadhan

9 Oktober 2026