Energi Terbarukan, Menguatkan Ekonomi Perempuan dari Desa hingga Dapur Usaha

Bagi banyak perempuan, energi bukan sekadar kebutuhan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Energi juga menjadi bagian penting dari usaha yang mereka bangun untuk menopang ekonomi keluarga. Dari mengolah hasil pertanian hingga menyiapkan dagangan sejak dini hari, ketersediaan energi yang terjangkau dan mudah diakses dapat menentukan efisiensi kerja, biaya produksi, bahkan keberlanjutan usaha mereka.

Namun, ketika biaya energi menjadi beban, keuntungan usaha kecil yang sudah terbatas dapat semakin tergerus. Di sisi lain, waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan domestik dan produksi juga membatasi kesempatan perempuan untuk mengembangkan usaha maupun terlibat dalam kegiatan sosial dan pengambilan keputusan.

Di sinilah energi terbarukan memiliki peran yang lebih luas. Pemanfaatan teknologi seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Solar Dryer House, dan biogas tidak hanya menghadirkan alternatif energi yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang bagi perempuan untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat kemandirian ekonomi.

Dari Matahari, Perempuan Desa Mengembangkan Usaha

Aktivitas perempuan KWT memanfaatkan energi terbarukan

Di Lombok Tengah, perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) menunjukkan bagaimana energi terbarukan dapat mendukung kegiatan ekonomi produktif. Melalui pemanfaatan PLTS untuk rumah produksi dan Solar Dryer House untuk mengeringkan kopi, mereka mengembangkan proses pengolahan hasil pertanian yang lebih praktis, bersih, dan ramah lingkungan.

Sebelum menggunakan Solar Dryer House, proses pengeringan kopi sangat bergantung pada cuaca. Ketika hujan turun, mereka harus segera mengangkat kopi yang sedang dijemur agar kualitasnya tetap terjaga. Situasi tersebut bukan hanya menambah pekerjaan, tetapi juga menyita waktu yang sebenarnya dapat digunakan untuk kegiatan produktif lainnya.

Kini, proses pengeringan menjadi lebih praktis. Siti Aisah, anggota KWT Elong Tune, merasakan perubahan tersebut dalam aktivitas sehari-harinya. Dengan proses kerja yang lebih efisien, perempuan memiliki kesempatan untuk mengerjakan hal lain yang berpotensi menambah penghasilan.

Pengalaman serupa dirasakan Verapaty dari KWT Kaki Rinjani. Melalui pendampingan dan pengenalan teknologi, ia dan anggota kelompoknya mulai memahami manfaat energi terbarukan bagi kegiatan ekonomi mereka.

Perubahan ini tidak berhenti pada efisiensi produksi. Berkurangnya beban pekerjaan juga membuka ruang bagi perempuan untuk mengikuti forum diskusi desa, seminar, dan kegiatan pengembangan usaha. Dengan demikian, energi terbarukan turut mendukung keterlibatan perempuan dalam ruang-ruang pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan dan penghidupan mereka.

Biogas Membantu Menekan Biaya Produksi Usaha Rumahan

Penjual kuliner rumahan memanfaatkan akses energi bersih
Penjual kuliner rumahan memanfaatkan akses energi bersih untuk operasional harian.

Jika matahari membantu perempuan mengolah hasil pertanian, biogas menawarkan manfaat serupa bagi usaha kuliner rumahan. Kisah Ibu Narmi, penjual nasi kuning di Sulawesi Tengah, memperlihatkan bagaimana akses energi bersih dapat membantu menjaga keberlanjutan usaha kecil.

Setiap hari, Ibu Narmi memulai aktivitasnya sekitar pukul 03.30 pagi untuk menyiapkan nasi kuning dan lauk-pauk. Menjelang pukul 05.30, dagangannya sudah siap untuk dijual kepada anak-anak sekolah dan para guru. Dari usaha sederhana tersebut, ia memperoleh penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Sebelum memanfaatkan biogas, kebutuhan memasaknya dapat menghabiskan hingga 15 tabung LPG per bulan, ditambah penggunaan kayu bakar. Pengeluaran energi menjadi bagian penting dari biaya produksi yang harus ia tanggung.

Sejak keluarganya menggunakan biogas pada 2019, kebutuhan energi untuk memasak nasi kuning dapat dipenuhi dengan lebih hemat. Ketergantungan terhadap LPG bersubsidi pun berkurang, sehingga biaya yang sebelumnya digunakan untuk membeli bahan bakar dapat dialihkan untuk kebutuhan lainnya.

21 Oktober 2026