Perempuan, Dapur, dan Perjuangan yang Tidak Pernah Padam Cerita Perubahan dari Program PRO-WOMEN - Pelabuhan Ratu

Setiap pagi sebelum banyak orang memulai aktivitasnya, Bu Ida Farida sudah lebih dulu sibuk di dapurnya. Wajan mulai dipanaskan, adonan disiapkan, dan satu per satu gorengan mulai dimasukkan ke minyak panas. Dari dapur sederhana itulah perempuan 52 tahun tersebut menjaga keberlangsungan hidup keluarganya.

Bagi Bu Ida, usaha gorengan bukan sekadar aktivitas harian. Itu adalah sumber penghidupan. Dengan pendidikan terakhir sekolah dasar, pilihan pekerjaan yang dimilikinya tidak banyak. Karena itu, usaha kecil yang ia jalankan menjadi sesuatu yang sangat penting—bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk memastikan dapurnya tetap bisa mengepul setiap hari.

Namun di balik rutinitas itu, ada beban yang selama bertahun-tahun selalu ia rasakan, yaitu biaya energi untuk memasak. Sebagai penjual gorengan, Bu Ida sangat bergantung pada gas LPG. Hampir setiap hari ia harus memasak dalam waktu yang lama untuk memenuhi kebutuhan dagangannya. Dalam satu bulan, ia bisa menghabiskan sekitar delapan tabung LPG dengan harga sekitar Rp25.000 per tabung.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi usaha kecil seperti milik Bu Ida, pengeluaran tersebut sangat terasa. Karena keuntungan dari jualan gorengan tidak selalu besar. Ada hari ketika dagangan ramai, tetapi ada juga hari ketika hasil penjualan hanya cukup untuk memutar modal kembali. Di situasi seperti itu, biaya gas menjadi pengeluaran yang tidak bisa dihindari.

Jika gas habis, dapur berhenti menyala dan penghasilan pun ikut terhenti. Kondisi ini membuat Bu Ida harus terus memikirkan bagaimana agar usahanya tetap berjalan di tengah biaya kebutuhan yang terus naik.

Perubahan mulai terasa ketika ia mengenal penggunaan biogas melalui program PRO-WOMEN. Awalnya, ia tidak langsung membayangkan bahwa biogas bisa benar-benar menggantikan LPG untuk kebutuhan usaha sehari-hari. Baginya, energi seperti itu terasa jauh dari kehidupan perempuan kecil seperti dirinya.

Namun perlahan, ia mulai mencoba. Dan hari ini, dapur Bu Ida tidak lagi bergantung pada LPG. Seluruh kebutuhan memasak untuk usaha gorengannya kini disuplai dari biogas.

Perubahan ini membawa dampak yang sangat nyata dalam kehidupan sehari-harinya. Pengeluaran yang sebelumnya rutin digunakan untuk membeli gas kini dapat ditekan. Apa yang dulu langsung habis untuk energi, sekarang bisa digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Bagi Bu Ida, perubahan ini bukan hanya soal penghematan ekonomi. Ada rasa aman yang tumbuh karena usahanya menjadi lebih stabil. Ia tidak lagi terlalu khawatir ketika LPG sulit didapat atau ketika harga sewaktu-waktu naik. Dapurnya tetap bisa menyala dan usahanya tetap bisa berjalan. Bagi perempuan yang menggantungkan hidup dari usaha kecil seperti dirinya, kepastian seperti ini sangat berarti.

Perubahan ini juga menunjukkan sesuatu yang lebih besar bahwa akses terhadap energi yang lebih terjangkau dapat memberi dampak langsung pada kehidupan perempuan. Karena dalam banyak rumah tangga, perempuanlah yang paling dekat dengan urusan energi sehari-hari. Perempuan yang memastikan dapur tetap menyala. Perempuan yang harus memikirkan bagaimana kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi meski kondisi ekonomi tidak selalu mudah.

Melalui biogas, Bu Ida tidak hanya mendapatkan alternatif energi. Ia mendapatkan dukungan untuk mempertahankan usahanya untuk terus bertahan melalui pekerjaan kecil yang selama ini menjadi penopang keluarganya.

Perubahan yang dialami Bu Ida mungkin tidak terlihat besar dari luar. Tidak pula ada perubahan hidup yang drastis. Namun di balik dapur sederhana itu, ada seorang perempuan yang kini bisa menjalankan usahanya dengan lebih ringan, tenang, serta harapan yang sedikit lebih panjang untuk keluarganya.

Ditulis oleh: Ijai Pratama

18 Juni 2026