Akses terhadap air bersih tidak hanya bergantung pada infrastruktur yang dibangun, tetapi juga pada siapa yang mampu menjaga dan merawatnya dalam jangka panjang. Berangkat dari pemahaman tersebut, Rumah Energi bersama Microsoft menyelenggarakan Training Technical Guideline Pembangunan Rainwater Harvesting (RWH) atau pelatihan teknis pembangunan sistem pemanenan air hujan bagi tenaga konstruksi lokal di empat desa dampingan. Pelatihan yang berlangsung pada 27 Juni, 4, 11, dan 18 Juli 2026 ini dilaksanakan di Desa Wanajaya, Pasirranji, Wanakerta, dan Cicau, dengan melibatkan 16 tenaga konstruksi lokal yang sebelumnya telah dipetakan berdasarkan potensi dan keterampilan di masing-masing wilayah.
Melalui pelatihan ini, para peserta tidak hanya diperkenalkan pada konsep dasar pemanenan air hujan (PAH), tetapi juga dibekali keterampilan teknis mulai dari menyusun perencanaan pembangunan, menghitung kebutuhan material, membuat rencana anggaran biaya (RAB) sederhana, hingga praktik pembangunan Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH). Pendekatan ini memastikan bahwa pengetahuan teknis tidak berhenti pada proses pembangunan proyek, tetapi menjadi kapasitas yang dimiliki dan berkembang di tingkat masyarakat.

Umpan Balik Praktis dari Lapangan
“Setelah mengikuti pelatihan ini lebih tergambar proses pengerjaan IPAH, agar memudahkan pekerjaan, gambar di modul harus disesuaikan dengan toren air dan material yang akan digunakan. Tetapi pekerjaan akan dipengaruhi oleh kondisi masing-masing lahan atau rumah yang akan dibangun,”
— Rusman, Peserta Pelatihan
Masukan tersebut menunjukkan bahwa pelatihan tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga forum pembelajaran dua arah yang memperkaya penyempurnaan modul teknis berdasarkan pengalaman para praktisi di lapangan.
Keberlanjutan dan Layanan Inklusif Bagi Masyarakat Rentan
Dalam banyak program pembangunan, infrastruktur sering kali menjadi fokus utama. Namun, keberlanjutan sebuah sistem justru ditentukan oleh kemampuan masyarakat untuk mengelola dan memeliharanya setelah proyek selesai. Melalui pelatihan ini, tenaga konstruksi lokal dipersiapkan menjadi mitra teknis di desa yang mampu melakukan perawatan maupun perbaikan.
Peran ini menjadi semakin penting mengingat sebagian penerima manfaat IPAH merupakan kelompok rentan, seperti lansia maupun keluarga yang memiliki keterbatasan fisik sehingga tidak mampu melakukan perbaikan instalasi secara mandiri. Dengan demikian, keberadaan tenaga konstruksi lokal tidak hanya memperkuat aspek teknis pembangunan, tetapi juga menciptakan sistem layanan yang lebih inklusif bagi seluruh masyarakat.

Memperkuat Konservasi Air dan Ekonomi Lokal
Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk memperkuat konservasi air berbasis masyarakat. Ketika keterampilan teknis dimiliki oleh warga setempat, manfaat pembangunan tidak berhenti pada satu proyek, tetapi membuka peluang replikasi dan pengembangan sistem pemanenan air hujan di masa mendatang.
Pendekatan tersebut juga memperkuat ekonomi lokal. Keahlian yang dimiliki para tenaga konstruksi lokal dapat menjadi modal untuk menyediakan jasa pembangunan maupun pemeliharaan sistem pemanenan air hujan, sekaligus menciptakan peluang kerja baru di tingkat desa.
Implementasi Kerangka Indonesia Berdaya
Pelatihan ini merupakan bagian dari implementasi kerangka Indonesia Berdaya yang dikembangkan Rumah Energi, di mana pembangunan tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat sebagai penggerak utama perubahan. Ketika pengetahuan dan keterampilan tumbuh di tingkat lokal, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, melainkan juga mampu menjaga, mengembangkan, dan mereplikasi solusi konservasi air secara mandiri untuk menghadapi tantangan perubahan iklim di masa depan.
