Elektrifikasi Pedesaan: Saat Energi Menjadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

JAKARTA — Elektrifikasi tidak cukup dimaknai sebagai penyediaan akses listrik. Bagi masyarakat pedesaan, energi juga menjadi bagian penting dari penghidupan—mulai dari pertanian, peternakan, pengolahan hasil produksi, hingga pengembangan usaha masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Sumanda Tondang, Executive Director Rumah Energi, dalam sesi “Equitable Electrification: Bridging the Rural–Urban Divide in Indonesia” pada Katadata SAFE 2026. Sesi ini membahas bagaimana agenda elektrifikasi dapat menjawab kebutuhan yang berbeda antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Menurut Sumanda, kebutuhan energi di pedesaan memiliki karakter yang berbeda dengan perkotaan. Jika kebutuhan energi perkotaan cenderung terkonsentrasi dan ditopang oleh jaringan infrastruktur yang lebih berkembang, kebutuhan di desa lebih tersebar dan erat kaitannya dengan aktivitas penghidupan masyarakat.
“Energi bukan hanya untuk kebutuhan dasar. Di desa, energi juga dibutuhkan untuk pertanian, peternakan, pengolahan pascapanen, dan usaha masyarakat.” ucap Sumanda.
Demikian perspektif yang dibawa Rumah Energi dalam sesi tersebut. Paparan Rumah Energi menempatkan energi sebagai enabler bagi produktivitas dan pembangunan ekonomi lokal.
Tidak Ada Satu Solusi untuk Semua Desa
Dengan karakter kebutuhan yang beragam, Sumanda menekankan pentingnya pendekatan energi yang sesuai dengan konteks lokal. Tidak semua komunitas membutuhkan teknologi atau model energi yang sama.
Rumah Energi mengembangkan pendekatan energi berbasis komunitas yang memanfaatkan potensi lokal, melibatkan masyarakat dalam pengelolaan teknologi, serta mengarahkan pemanfaatan energi untuk kegiatan produktif.
Pengalaman Rumah Energi melalui Biogas Rumah dan Solar Dryer House menjadi contoh pendekatan tersebut. Biogas dapat menyediakan energi untuk memasak sekaligus membantu pengelolaan limbah ternak dan mendukung pertanian berkelanjutan. Sementara itu, Solar Dryer House memanfaatkan energi surya untuk pengolahan pascapanen dan meningkatkan nilai ekonomi produk masyarakat.

“Teknologi terbaik bukan selalu yang paling canggih, tetapi yang paling sesuai dengan konteks masyarakat,” menjadi salah satu pesan utama Rumah Energi dalam melihat pengembangan energi di wilayah pedesaan.
Dari Proyek Energi Menjadi Gerakan Masyarakat
Menurut Rumah Energi, keberlanjutan solusi energi tidak dapat hanya bergantung pada teknologi. Diperlukan ekosistem yang memungkinkan masyarakat terus mengelola dan mengembangkan solusi tersebut.

Ekosistem itu mencakup kebijakan yang mendukung, pembiayaan untuk instalasi sekaligus operasional dan pemeliharaan, penguatan kapasitas, serta kolaborasi antara pemerintah, komunitas, koperasi, sektor swasta, lembaga keuangan, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai pihak lainnya.
Dalam konteks ini, koperasi juga dapat memainkan peran penting sebagai wadah kolektif masyarakat. Koperasi dapat membantu mengorganisasi kebutuhan energi, memperluas akses pembiayaan, serta membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi secara bersama.
Bagi Rumah Energi, pendekatan tersebut membawa energi melampaui fungsi konsumsi. Energi terbarukan dapat menjadi penggerak perubahan ketika masyarakat memiliki kapasitas untuk memiliki, mengelola, dan memanfaatkannya secara kolektif untuk memperkuat penghidupan mereka.

Karena itu, agenda elektrifikasi pedesaan perlu melihat lebih jauh dari sekadar seberapa banyak infrastruktur energi dibangun. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana energi tersebut dapat menjawab kebutuhan lokal, mendukung aktivitas produktif, dan memperkuat kapasitas masyarakat.
Elektrifikasi yang berkeadilan bukan tentang memberikan solusi yang sama kepada semua wilayah, tetapi memastikan setiap masyarakat mendapatkan solusi energi yang sesuai dengan kebutuhan dan potensinya.
Ditulis oleh: Fauzan Ramadhan
